INI BUKAN ERROR, INI FITUR
Setelah ditolak, aku tidak langsung patah hati.
Aku malah sibuk… memperbaiki sesuatu yang mungkin bukan masalahnya. Kipas angin terus berputar, seolah lebih rajin dari semangatku akhir-akhir ini.
Di depan layar laptop, barisan kode warna-warni berjejer seperti jawaban yang tidak pernah aku pahami. Secangkir teh hangat dan roll-on aromaterapi jadi teman setia di meja kerja yang mulai terasa seperti tempat persembunyian.
Sudah beberapa hari aku tidak keluar dari kos sejak pertemuan terakhir dengan Maya. Bukan karena sibuk. Lebih tepatnya… karena malas menghadapi dunia. Aku mulai mengulang semua kejadian di kepalaku.
Apakah aku kurang tampan?
Kurang mapan?
Atau obrolanku yang terlalu biasa?
Semua pertanyaan itu menumpuk di otakku—yang mungkin sudah hampir penuh, tinggal sisa beberapa gigabyte untuk menampung overthinking. Tapi satu hal yang tidak berubah: Aku belum menyerah.
Siang itu, aku sedang mengulik sebuah kode. Proyek kecil—mengubah gambar menjadi data numerik yang bisa dibaca mesin.
Ribuan forum kubuka.
Ratusan solusi kubaca.
Sebagian besar… tidak membantu.
Seperti nasihat tentang cinta.
Sampai akhirnya aku berhenti di sebuah iklan. Dating apps. Satu klik berubah jadi tiga. Tiga berubah jadi eksplorasi. Aku mulai mengenal beberapa aplikasi sekaligus. Fitur-fitur menarik. Janji-janji manis. Dan harapan yang diam-diam ikut ter-install.
Entah kenapa, tiba-tiba perutku terasa tidak enak. Keringat dingin mulai muncul. Bukan karena takut… atau mungkin iya. Saat aku hendak berbalik menuju kamar mandi—Aku membeku. Sebuah kepala muncul di jendela. Mata melotot. Diam. Mengawasi. Aku hampir… kehilangan kendali hidup.
“Sedang apa kau, Jhon? Mau coli habis buka dating apps?”
Suara itu.
Sudah jelas.
“SIALAN KAU, COK!”
Aku langsung mundur.
“Panteslah perasaanku gak enak dari tadi!”
Ucok masuk dengan santai, seolah tidak baru saja hampir menyebabkan tragedi.
“Kuat juga sensor perutmu ya. Aku dari tadi di luar lihat kau serius kali scrolling.”
“Hati-hati muncungmu berdalih. Masuklah kau, bujang!”
“Padahal kau juga bujang.”
“Banyak kali cakapmu. Ada apa kau datang tiba-tiba begini?”
Aku mulai curiga.
Ucok itu bukan tipe orang yang datang tanpa alasan.
Kalau dia muncul mendadak… biasanya ada sesuatu.
“Gak ada, Jhon,” katanya santai.
“Gabut saja. Sekalian lihat kau, udah beberapa hari gak nampak.”
Aku menatapnya lama.
“Gabut? Kau? Yang kalau gak ada kerja pasti nyari masalah?”
Ucok duduk di kursi plastik yang sudah hampir pensiun.
“Ya… kali ini aku gak bawa masalah.”
Aku menyipitkan mata.
“Berarti kau bawa solusi yang lebih berbahaya.”
Ucok tertawa kecil.
Matanya melirik ke layar laptopku.
“Oh… jadi ini kerjaanmu beberapa hari ini?”
Aku cepat-cepat menutup tab dating apps.
“Kerja, Cok. Aku lagi kerja.”
Ucok berdiri, mendekat, lalu menepuk bahuku.
“Jhon… jujur saja. Kau lagi cari cinta… atau lagi cari distraksi?”
Aku diam.
Pertanyaan itu… terlalu tepat.
Ucok kembali duduk.
Kali ini, nadanya tidak main-main.
“Kalau kau terus mikir kenapa kau ditolak, kau gak akan jalan.”
Aku menarik napas panjang.
“Terus aku harus gimana?”
Ucok tersenyum.
“Coba lagi.”
Aku langsung refleks.
“Gila kau?”
“Baru satu kali gagal udah mau pensiun?”
“Itu bukan satu kali, Cok… itu pengalaman traumatis ringan.”
Ucok tertawa.
“Trauma apanya? Kau cuma ditolak, bukan ditangkap KPK.”
Aku terdiam.
Lalu… ikut tertawa.
Dan anehnya, setelah itu, rasanya lebih ringan.
Hari itu, kami mulai lagi.
Dengan cara yang… tidak jauh berbeda.
“Sekarang kita harus lebih sistematis,” kata Ucok sambil mengambil spidol.
Aku langsung curiga.
“Jangan bilang kau mau bikin flowchart lagi.”
Ucok tersenyum lebar.
“Algoritma, Bro. Biar gak gagal lagi.”
Di kardus mie instan bekas, dia menulis:
ALGORITMA CARI PASANGAN v2.0
1. Cari target
2. Bangun komunikasi
3. Evaluasi respon
4. Eksekusi perasaan
Aku hanya bisa geleng-geleng.
“Cok… cinta itu bukan coding.”
Ucok menjawab tanpa menoleh:
“Semua yang bikin kau pusing… pasti ada logikanya.”
Dan begitulah…
Kami mulai lagi.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama:
Scroll.
Like.
Chat.
Menunggu.
Percobaan pertama.
Awalnya lancar.
Hari pertama… respon cepat.
Hari kedua… masih hangat.
Hari ketiga…
Hilang.
“Apa kabar?”
Tidak dibalas.
“Lagi sibuk ya?”
Tidak dibalas.
Aku menatap layar cukup lama.
Centang dua tetap biru.
Tapi rasanya seperti tidak pernah sampai.
Aku menoleh ke Ucok.
“Ini error… atau memang begini sistemnya?”
Ucok menjawab santai:
“Ini bukan error, Bro. Ini fitur.”
Aku tertawa kecil.
Tapi di dalam hati… aku mulai curiga.
Mungkin aku yang salah memahami sistemnya.
Percobaan kedua.
Lebih cepat.
Lebih intens.
Lebih berharap.
“Kamu baik, Jhon. Tapi aku belum mau fokus ke hubungan.”
Aku baca kalimat itu berulang kali.
“Kamu baik…”
Aku menghela napas.
“Cok…”
“Kenapa?”
“Kalimat ‘kamu baik’ itu ternyata bukan kabar baik ya.”
Ucok mengangguk pelan.
“Itu penutup, Bro. Versi sopan.”
Aku diam.
Beberapa detik.
Aneh.
Kalimat yang terdengar positif…
ternyata rasanya negatif.
Percobaan ketiga bahkan lebih singkat.
Belum sempat aku menyusun harapan…
Cerita sudah selesai.
Aku mulai lelah.
Bukan karena ditolak.
Tapi karena… semuanya terasa sama.
Seperti mengulang skenario yang aku sudah tahu akhirnya.
Sampai suatu sore.
Kami duduk di depan kos.
Udara biasa saja.
Suasana biasa saja.
Tiba-tiba Ucok berdiri.
“Jhon… kita salah.”
Aku menoleh.
“Salah di mana lagi?”
Ucok menyilangkan tangan.
“Kita nyari terlalu jauh.”
Aku mengernyit.
“Maksudnya?”
Ucok menunjuk ke lorong.
“Cinta itu bukan di aplikasi, Bro…”
Dia berhenti sejenak.
Lalu tersenyum.
“…cinta itu di depan kos.”
Aku mengikuti arah tangannya.
Dan di sanalah…
aku melihatnya.
“Bang, numpang lewat ya.”
Suara sederhana.
Biasa.
Tapi entah kenapa… terasa berbeda.
Aku sedikit bergeser.
“Iya… silakan.”
Dia lewat begitu saja.
Tanpa kesan.
Tanpa makna.
Atau mungkin… aku saja yang belum paham.
Tapi sejak hari itu…
aku mulai sering melihatnya.
Kadang di warteg.
Kadang di lorong.
Kadang hanya sekilas.
Sampai suatu hari—
“Bang, charger ada? Punya aku rusak.”
Aku terdiam sebentar.
“O-oh… ada.”
Aku masuk kamar, mengambil charger, lalu memberikannya.
“Makasih ya.”
“Iya… sama-sama.”
Percakapan itu singkat.
Sangat singkat.
Tapi anehnya…
terasa lebih nyata daripada semua chat sebelumnya.
Dan tanpa aku sadari…
sesuatu mulai berubah.
Awalnya cuma kebetulan.
Ketemu di lorong.
Ketemu di warteg.
Ketemu pas waktu yang sama, dengan alasan yang kadang dibuat-buat.
Lama-lama…
terlalu sering untuk disebut kebetulan.
“Bang, makan lagi di sini?”
Aku menoleh.
Dia sudah berdiri di sampingku, piring di tangan, wajah yang entah kenapa selalu terlihat ringan.
“Iya… lagi mikir ayam atau ikan.”
Dia melirik ke etalase.
“Jangan ayam yang itu. Itu udah dari pagi.”
Aku langsung geser sendok.
“Berarti ikan ya.”
Dia ketawa kecil.
“Iya… itu lebih aman.”
Sejak itu, kami sering makan bareng.
Awalnya berdiri bersebelahan.
Lalu duduk satu meja.
Lalu… tanpa sadar jadi rutinitas.
“Bang, es teh tawar kan?”
Aku kaget.
“Iya… kok tau?”
Dia angkat bahu.
“Sering lihat.”
Hal-hal kecil mulai terasa besar.
Yang dulu gak penting… sekarang jadi ditunggu.
Kami mulai ngobrol banyak.
Tentang kerja.
Tentang kosan.
Tentang hidup yang kadang lucu, kadang juga… ya begitu.
“Bang kerja apa sih sebenarnya?” tanyanya suatu malam.
“Ngoding.”
Dia mengangguk.
“Itu yang banyak angka-angka itu ya?”
“Iya… tapi bukan angka. Lebih ke warna.”
Dia mengernyit.
“Ngoding pakai warna?”
Aku tersenyum.
“Kadang hidup juga gitu. Kita kira hitam putih… padahal banyak warna yang gak kita pahami.”
Dia diam sebentar.
Lalu ketawa.
“Berat kali abang kalau ngomong.”
Aku ikut tertawa.
Dan untuk pertama kalinya…
aku merasa tidak perlu jadi siapa-siapa.
Kadang kami cuma duduk.
Tanpa topik.
Tanpa tujuan.
Tapi tetap terasa cukup.
“Lucu ya,” kataku.
“Kenapa?”
“Kita gak pernah jadian… tapi sering bareng.”
Dia tersenyum.
“Mungkin karena kita sama-sama butuh teman makan.”
Aku mengangguk.
Tapi di dalam hati… aku mulai salah lagi.
Aku mulai mengira:
ini bukan sekadar kebiasaan.
Ucok tentu saja tidak tinggal diam.
“Bro…” katanya suatu malam.
“Kenapa?”
“Kau udah mulai ya?”
“Mulai apa?”
Ucok nyengir.
“Mulai jatuh… tanpa cek kondisi lapangan.”
Aku menghela napas.
“Cok… kali ini beda.”
“Semua juga bilang gitu di awal.”
Aku diam sebentar.
“Dia baik, Cok.”
Ucok langsung jawab cepat.
“Semua juga baik di awal.”
Aku menatapnya.
“Dia perhatian.”
Ucok angkat bahu.
“Itu belum tentu spesial.”
Aku mulai kesal.
“Cok… kali ini aku yakin.”
Ucok berhenti sebentar.
Lalu menatapku lebih serius.
“Yakin… atau berharap?”
Aku tidak langsung jawab.
Karena untuk pertama kalinya… aku tidak tahu bedanya.
Hari-hari berikutnya terasa lebih ringan.
Kami makan bareng.
Kadang dia bawa gorengan.
Kadang aku yang traktir mie instan level akhir bulan.
Hubungan yang tidak punya status…
tapi punya rutinitas.
Dan aku mulai terlalu nyaman.
Sampai suatu sore.
Aku berjalan ke masjid untuk sholat Ashar. Langkahku pelan. Kepalaku penuh. Di dalam masjid, aku duduk lebih lama dari biasanya. Aku tidak langsung berdiri setelah salam. Aku menunduk. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu… aku jujur.
“Ya Allah…
kalau ini baik, dekatkan.
Kalau tidak… tolong beri aku petunjuk.”
Aku tidak tahu harus minta apa lagi.
Karena aku sendiri tidak tahu… apa yang sebenarnya aku rasakan.
Aku keluar dari masjid.
Udara sore terasa biasa saja.
Sampai aku melihat sesuatu.
Dia.
Dan seorang pria.
Mereka berboncengan.
Tertawa.
Dekat.
Pria itu memberinya sesuatu.
Dia menerimanya.
Lalu…
dengan santai…
dia mencium pipi pria itu.
Sunyi.
Bukan di jalan.
Di dalam diriku.
Aku berdiri di tempat.
Tidak bergerak.
Tidak berpikir.
Hanya… kosong.
Perasaan itu datang cepat.
Dan hilang lebih cepat lagi.
Seperti sayur tanpa garam.
Ada bentuknya.
Tapi… tidak ada rasanya.
Malam itu, aku tidak keluar kamar.
Besoknya juga tidak.
Dan hari-hari setelahnya… sama.
HP-ku sering berbunyi.
Namanya muncul.
Aku lihat.
Tapi tidak kubuka.
“Bang, kemana? Udah lama gak nampak.”
Tidak kubalas.
“Bang, nanti ada konser kecil. Mau ikut?”
Aku baca.
Lalu kututup lagi.
Bukan karena marah.
Tapi karena… aku tidak tahu harus jadi siapa lagi.
Sampai suatu siang.
Setelah Zuhur.
Aku duduk di halaman masjid.
Diam.
Melihat ke arah jalan.
Dan lagi-lagi… aku melihatnya.
Bersama orang yang sama.
“Kau lihat apa?”
Suara itu tiba-tiba muncul dari sampingku.
Aku menoleh.
Seorang pria dengan wajah tenang berdiri di sana.
“Gak… lihat biasa aja.”
Dia tersenyum.
“Biasanya… orang yang bilang biasa aja, justru lagi gak biasa.”
Aku tidak menjawab.
Dia duduk di sampingku.
“Aku Dika.”
Aku mengangguk.
“Jhon.”
Beberapa detik hening.
“Patah hati?” tanyanya santai.
Aku tersenyum tipis.
“Kelihatan ya?”
Dia mengangguk.
“Lumayan jelas.”
Aku menarik napas.
Dan entah kenapa…
aku mulai cerita.
Tentang dia.
Tentang kedekatan itu.
Tentang harapan yang aku bangun sendiri.
Dika mendengarkan.
Tidak memotong.
Tidak menghakimi.
Setelah aku selesai, dia hanya berkata pelan:
“Kadang kita minta petunjuk…
tapi pas dikasih, kita gak siap nerima.”
Aku diam.
Dia melanjutkan:
“Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, maka Dia akan memudahkan jalannya.’”
Aku menunduk.
“Kalau memang itu bukan untukmu…
bukan berarti kau ditolak.
Tapi kau diselamatkan.”
Aku menutup mata sebentar.
Untuk pertama kalinya…
penolakan itu terasa masuk akal.
Aku mengangguk pelan.
Dan anehnya…
rasanya lebih ringan.
Sejak hari itu, aku mulai sering ke masjid.
Bukan hanya untuk sholat.
Tapi… untuk duduk.
Ngobrol.
Belajar diam.
Dan tanpa sadar…
aku menemukan sesuatu yang lebih tenang dari sekadar perasaan.
Malam itu, aku duduk di depan kos lagi.
Ucok di sampingku.
Seperti biasa.
“Gimana, bro?” tanyanya.
Aku tersenyum.
Tidak menjawab.
Aku hanya menunjukkan layar HP.
Ucok melihat.
Diam.
Mengangguk.
Dia tidak banyak bicara.
Hanya… memelukku.
Dan untuk pertama kalinya…
aku tidak merasa sendirian.
Malam itu, aku belajar satu hal baru:
Tidak semua rasa harus dimiliki.
Kadang… cukup dipahami, lalu dilepaskan.