Special Theme
Day 10
Day 10
(Bab 1. Novel Kurikulum Hatiku)
Yudha Sansena | Semarang, 27 Desember 2025
"Kamu sudah punya pacar?"
Itu pesanku 15 menit lalu kepada Maya, Wanita yang kutemui di Instagram tiga hari lalu setelah aku berkomentar di postingan desain ilustrasinya: ‘Keren, unik bentuknya'.
Sejauh ini hanya dia yang merespon dari ratusan wanita di Instagram. Yaps, aku jomblo dari lahir, mungkin dengan cara ini bisa memecahkan rekor panjang kejombloanku.
Maya: Belum, Bang.
Aku: Sama berarti kita.
Maya: Apanya, Bang?
Aku: Masih single.
Maya: Ohhh 😅
Aku tersenyum sendiri membaca pesan dari Maya di kamar kosku yang sederhana—kasur tipis, kipas angin setia, dan meja kerja penuh kabel. Tapi malam ini, rasanya kamar ini naik kelas jadi suite hotel. Bukan karena AC, tapi karena ada Maya di layar WhatsApp.
Menurutku belum ada perempuan sebaik Maya: perhatian, cantik, Sholeh dan sepertinya sangat rajin menabung sebab beberapa postingannya sering foto didepan teller. Ketika aku baca bio-nya:
"💼 Teller | Customer Service Oriented 🌟
Helping people manage their daily banking needs with care 🤝".
Dia punya bakat terpendam di desain grafis, namun ntah bagaimana dia memilih profesi ini, bukan aku gak suka profesinya ya. Yah... Heran aja...
Maya: Aku dulunya emang suka desain
Aku: Nah, nampak bakatnya
Maya: Iyah, tapi karna aku butuh uang, aku ambil kerjaan yang oke
Aku sadar kalau semuanya butuh uang, tapi sekarang sepertinya aku lebih butuh... mandi. Badanku lengket, wangi kopi campur Freshcare menempel di kulit—aroma khas lembur di depan laptop, terlalu lama bersahabat dengan AC.
Di tengah mandi, aku kepikiran Maya. Setengah gak percaya aku bisa dekat sama dia beberapa hari ini. Aku belum sepede itu bisa dekat apalagi suka sama dia. Pekerja musiman macam aku, yang tiap hari ngulik kode warna-warni di kosan, rasanya nggak pantas punya rasa begini.
Klik... CeKreeek...
"Jhon... Are u here?"
Alamak... suara si binatang satu itu udah masuk ke kosanku. Padahal pintu kamar udah kuganti pinnya, kok bisa tahu juga si bujang ini?
Astaga... HP-ku!
Badanku masih penuh busa sabun temulawak, langsung sigap menghadukkan diri keluar dari persemayaman lamunanku. Mati kita... HP-ku...
Dan benar saja — si Ucok, dengan muka tak berdosa, duduk manis di ujung kasur sambil scroll WhatsApp-ku kayak auditor memeriksa laporan keuangan.
“Si bujang lapok lagi deket ma cewek rupanya, yah...” katanya, senyum-senyum jahat.
Aku cuma bisa bengong, separuh panik, separuh pengen lempar sabun temulawak ke wajahnya.
Dalam hati aku komat-kamit ngafal pasal Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua UU ITE, pasal 30 ayat 1-3:
Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengakses data elektronik milik orang lain...
Kalau aja aku jaksa, mungkin dia udah kupanggil jadi tersangka.
“Nah… besok ketemu kalian di kafe-ku.”
“Kau bilang apa ke dia, Cok?!” Panik bukan main aku dibuatnya.
Kurebut HP-ku dari tangannya—padahal tanganku masih penuh busa sabun. Ku-scroll cepat ke bawah.
Ada-ada aja si koncet satu ini.
"_Dek, besok kita ketemu di kafe AB.CO ya..._"
“Apa-apaan si Cok?!”
“Jhon… cinta itu sama kayak proyek, perlu tinjau lapangan langsung,” katanya santai, sambil selonjoran di kasurku.
“Kami baru tiga hari, loh, Cok!”
“Justru karena baru tiga hari, makanya harus ketemuan. Takutnya yang kau chat itu siluman ular.”
“Aku nggak sepede itu, Cok...”
“Kalau nggak sepede itu, kenapa kau nanya dia udah punya pacar?”
“Emang ya, muka kau tuh kek kon…”
Ting!
Suara notifikasi dari Maya masuk.
Maya: Boleh bang, tapi aku ajak temen ya 😊
Aku dan Ucok saling berpandangan.
“Cok… tanggung jawab ini…”
“Selow, Bro… lu cuma perlu gladi resik kencan buta.”
Dan malam itu jadi malam yang panjang bersama Ucok.
Celetukan, drama, sampai sumpit jadi alat peraga gladi resik kami berdua.
Kata Ucok, aku harus latihan cara senyum yang “gak kaku kayak scan QR.”
Aku coba senyum.
Dia langsung ketawa ngakak sambil tepuk jidat.
“Astaga, Bro... itu bukan senyum, itu muka orang yang baru sadar limit Shopeepay-nya abis.”
“Lah, salahnya di mana?”
“Salahnya di hidupmu, Jhon. Tapi tenang, kita perbaikin bareng.”
Dia ambil sumpit, berdiri di depan cermin.
“Anggap ini mic, ya. Nih, bayangin Maya duduk di depanmu.”
“Woi, gak mungkin aku ngomong sama sumpit, Cok.”
“Justru itu latihan mental, Bro. Cewek tuh suka cowok yang bisa ngobrol meski lawannya benda mati.”
Ucok mulai nyontohin cara nyapa:
“Hai, Maya… kamu keliatan beda hari ini.”
Aku nyoba ikutin.
“Hai, Maya… kamu keliatan beda hari ini.”
“Nggak gitu! Suaramu tuh kayak ngelamar kerja di bank tempat dia kerja.”
“Lah, memang dia kerja di bank.”
“Ya makanya jangan bahas bank! Kau mau kencan, bukan buka rekening!”
Aku ketawa sampai perut sakit, Ucok ikut ngakak sampai kursi hampir tumbang.
Kami latihan sampai hampir jam dua pagi.
Ucok bahkan sempat gambar flowchart di kardus mie instan dengan spidol biru:
Rencana Kencan Buta v.1.0
1️⃣ Datang tepat waktu
2️⃣ Jangan ngomong soal coding
3️⃣ Kalau gugup, pura-pura lagi mikir harga saham
“Empat langkah sukses, Bro.”
“Langkah empatnya mana?”
“Langkah empat: jangan buat aku malu sebagai pelatih cinta.”
Aku cuma geleng kepala.
Kadang aku gak tau, Ucok ini bantu atau malah sabotase.
Tapi di balik semua kebodohan itu, aku ngerasa aneh… ada yang hangat.
Dia gak pernah bilang “semangat ya,” tapi dari caranya ribut, dari tawa kami, aku tahu — dia pengen aku berhasil.
Bukan buat pamer, tapi biar aku gak terus bersembunyi di balik layar.
Aku duduk di depan laptop, layar kosong menyala seperti cermin.
Kepalaku masih memutar ulang semua yang terjadi tadi:
Ucok yang maksa aku latihan senyum, flowchart absurd yang dia gambar, aroma parfum yang katanya “CEO banget.”
Semua konyol, tapi entah kenapa, ada rasa hangat di balik kekonyolan itu.
Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku merasa gak sendirian mempersiapkan sesuatu yang gak bisa aku pahami secara logika: perasaan.
Cinta sebagai pelajaran non-formal, tempat hati jadi guru dan logika jadi murid.
Kalau hidup ini punya silabus, mungkin malam tadi masuk ke mata pelajaran baru —
Kurikulum Hatiku.
Materinya sederhana:
“Merasakan tanpa takut salah.”
Nilainya? Belum tahu.
Tapi untuk pertama kali, aku pengen ikut ujian tanpa nyontek dari algoritma siapa pun.
Kupandangi kode terakhir yang kutulis sebelum mandi tadi sore.
Barisan warna-warni itu sekarang kelihatan seperti puisi yang belum selesai.
Cinta, kalau kupikir-pikir, mungkin memang gak bisa dikompilasi.
Dia jalan di luar rumus, tanpa syntax, tapi tetap bikin jantung error. Dan malam itu, aku gak berusaha memperbaikinya.
Aku biarkan semua berjalan tanpa logika — seperti cinta seharusnya
Hanya satu hal yang gak bisa kulupakan malam ini: besok, jam 17:30 di kafe itu.
-----------------------------------------------------------------------------------------
Alarm bunyi.
Lima detik pertama aku kira itu notifikasi WA dari Maya — ternyata alarm shalat Dzuhur yang ke-skip.
Yang bikin panik bukan karena dosa, tapi karena jam di layar: 16.30.
Satu jam lagi kencan.
Satu jam lagi algoritma hidup bakal di-run tanpa mode simulasi.
Kupandangi flowchart di kardus mie instan buatan Ucok semalam.
Tulisan spidol birunya udah pudar, tapi masih terbaca jelas:
Langkah 1: Jangan panik.
Ya, Ucok, aku udah skip langkah 1 dari tadi.
Panik versi stabil.
Aku liat kaca — rambutku mirip grafik penurunan saham, kemeja biru udah mirip peta kerutan hidup.
Kupikir:
“Kalau cinta itu investasi, aku kayaknya udah rugi di modal percaya diri.”
Aku semprot parfum “CEO banget” itu.
Dua kali.
Langsung nyesel.
Aromanya bukan CEO, tapi kayak ruang meeting bekas acara motivasi.
Tapi ya sudahlah, mungkin itu bagian dari personal branding.
Kupungut kunci motor, dompet, dan sisa keberanian yang entah ke mana.
Kupandangi diri sendiri di kaca:
“Santai, Jhon. Ini cuma kencan. Cuma ngobrol. Cuma mungkin awal dari kejatuhan hidup lo.”
Tawa kecil keluar sendiri.
Lucu, tapi getir.
Kayak kopi sachet tanpa gula, yang tetap diminum karena gak ada pilihan lain.
Dan di antara semua kegugupan, aku sadar satu hal:
kalau semalam itu teori, hari ini praktikum pertama di Kurikulum Hatiku.
Soal nilainya nanti, biar nasib yang koreksi.
Aku berkendara gak karuan mengejar waktu di jalanan macet kota yang harus beradu cepat dengan supir angkot yang pernah main film dengan Toretto: fast and furious 1, 2, 3 atau berapapun lah itu. Lampu merah yang panjang, kemacetan yang menggila karna angkot-angkot ngetem sembarangan dan menerobos lampu merah hingga melawan arah, hingga emak-emak tanpa helm dengan lampu sen kanannya tapi kekeh ia berbelok sesuai keyakinannya. Kota ini sering disebut "Gotham city" kata orang-orang Frankfurt, Jerman. Aku gak tahu mereka pernah ke sini atau cuma sok tahu, tapi sore itu aku setuju.
Bedanya, di Gotham biasanya ada Batman.
Di sini cuma ada aku, motor, dan rasa gugup yang nyangkut di tenggorokan.
Jam di dashboard nunjuk 17:18.
Kafe AB.CO tinggal dua belokan lagi.
Tanganku dingin, padahal cuaca panas dan aku gak pakai jaket.
Mungkin ini yang disebut sistem pendingin aktif sebelum crash.
Aku sampai di depan kafe.
Lampunya hangat, kacanya bening, dan di dalam orang-orang duduk santai—terlalu santai untuk orang sepertiku yang merasa hidupnya mau diuji.
17:22.
Aku parkir.
Tarik napas.
Buang napas.
Masuk.
Kafe itu wangi kopi dan sesuatu yang manis.
Aku pilih meja agak pojok—posisi aman untuk orang yang masih ingin terlihat normal tapi siap kabur kalau keadaan darurat.
Kupesan kopi hitam.
Biar kelihatan dewasa.
HP-ku kubuka.
Belum ada pesan.
17:28.
Aku pura-pura baca menu, padahal hurufnya udah kuhafal dari Google Maps.
Tanganku buka WhatsApp.
Aku: Aku udah di kafe ya, May.
Centang dua biru muncul cepat.
Mengetik.
Berhenti.
Mengetik lagi.
Maya: Iya bang, aku di luar sama temenku.
Jantungku turun satu lantai.
Beberapa detik kemudian, pintu kafe terbuka.
Maya masuk.
Dan… dia sama persis seperti di foto.
Bahkan sedikit lebih nyata.
Dia melambaikan tangan kecil.
Aku berdiri terlalu cepat sampai kursiku berdecit.
“Bang Jhon?”
“Iya… Maya?”
Kami duduk.
Temannya duduk di sebelahnya.
Aku senyum.
Temannya juga senyum—senyum orang yang datang buat memastikan situasi tetap aman.
Obrolan berjalan.
Tentang kerja.
Tentang macet.
Tentang kopi yang katanya enak tapi pahit juga.
Aku pakai semua pelajaran Ucok.
Jangan bahas coding.
Jangan bahas bank.
Jangan kelihatan panik.
Tapi ada satu hal yang gak bisa diajarin semalam:
rasa yang gak nyambung.
Aku bisa ngerasain pelan-pelan.
Cara Maya jawab—ramah tapi berjarak.
Tatapannya yang sering lari.
Tawanya sopan, bukan lepas.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Maya menatapku.
Bukan tatapan ragu.
Tatapan orang yang sudah sampai di kesimpulan.
“Bang Jhon… aku senang sih bisa ketemu,” katanya pelan.
Aku mengangguk. Refleks.
Jantung mulai buffering.
“Tapi kayaknya… kita cocoknya temenan aja ya.”
Oh.
Kalimat itu jatuh ringan.
Ringan banget sampai otakku butuh waktu buat sadar ini bukan bercanda.
Aku senyum.
Telat setengah detik.
“Iya,” kataku.
“Gak apa-apa kok.”
Dan itu bohong kecil pertamaku sore itu.
Di kepalaku, flowchart Ucok langsung mentok.
Langkah keempat memang gak pernah ada.
Aku mikir:
Oke, berarti ini bukan bug.
Ini fitur yang gak aku aktifin.
Kami ngobrol sebentar lagi.
Aman.
Sopan.
Kayak dua orang yang sepakat menutup tab yang sama tanpa nyalahin koneksi internet.
Saat pamit, aku baru sadar satu hal konyol:
aku masih pakai parfum “CEO banget”.
Lucu juga.
CEO ditolak sebelum rapat dimulai.
Di luar kafe, aku duduk di motor agak lama.
Bukan karena sedih.
Tapi karena kepalaku lagi nyusun laporan kegagalan.
HP-ku bunyi.
Ucok: Gimana, bro?
Aku ngetik.
Hapus.
Ngetik lagi.
Aku: Gagal.
Beberapa detik kemudian.
Ucok: Sakit?
Aku mikir sebentar.
Aku: Enggak.
Cuma aneh.
Ternyata ditolak itu rasanya kayak salah parkir.
Malu sebentar, terus ya udah… pindah tempat.
Ucok kirim emoji ketawa.
Aku nyalakan motor.
Di perjalanan pulang, aku sadar satu hal:
praktikum pertamaku di Kurikulum Hatiku gagal.
Tapi setidaknya aku datang ke kelas.
Dan untuk cowok yang biasanya cuma berani jatuh cinta lewat layar,
itu kemajuan kecil yang layak dicatat.
Walaupun Gagal...
Tapi setidaknya, aku gak bolos.