Mr. Nobody | Medan, 18 Desember 2025
Brakkkkkk.
“Kontol kali hidup ini, Jhon…”
Aku hampir tersedak kopi panas yang baru saja kupesan di kedai kopi Semalam Suntuk. Ucok datang dengan wajah kuning langsat yang seketika berubah jadi sawo matang—seperti habis dibakar api asmara, atau mungkin api kemarahan.
“Gila kali pemerintah kita. Kau tengoklah, antri BBM mengular. Baru kali ini aku antri Pertamax dua jam, njir,” katanya sambil menaikkan lengan batik panjangnya. Dua-tiga kancing dibuka. Keringat di keningnya diusap. Belang helm masih jelas.
“Sabar, Cok,” kataku. “Masih banjir di mana-mana. Truk BBM pun susah lewat kalau banjir masih seperut Nabi Adam.”
“Yah… pinomat datanglah bantuan dari pemerintah setempat. Ini malah nggak ada. Perahu karet pun seminggu ini nggak kelihatan dari BNPB.”
“Sabar. Semua pasti lagi susah, Cok. Ngopi dulu, lur.
Bu… kopi hitam pekat, pahit kayak kehidupan sekarang, satu ya.”
“Oke, Mas Jhon…” jawab ibu bergamis cantik jelita dari balik dapur, matanya masih setia ke berita di televisi.
Volume TV samar-samar terdengar di antara sunyi kedai. Baru aku dan Ucok yang ada. Kedai ini memang baru buka jam sepuluh pagi.
“Kami tetapkan bencana di tiga provinsi di Sumatera bukanlah bencana nasional…”
Aku berhenti menyeruput kopi.
Ucok ikut diam.
Wajah bapak tua berseragam BNPB di layar tampak tenang. Terlalu tenang.
“…yang kita lihat semuanya terkendali. Tidak seseram penayangan di media sosial yang sama-sama kita lihat…”
Sunyi.
Suara itu terdengar datar—seperti orang yang tidak berdiri di air setinggi dada.
“Babilah…” gumam Ucok. Tangannya mengepal di atas meja.
“Sabar,” kataku cepat. “Kita ke sini numpang listrik dan WiFi, bukan numpang marah-marah.”
“Kita udah seminggu begini, Jhon,” suaranya turun, tapi lebih berat.
“Tanpa listrik. Tanpa air bersih. Tanpa jaringan. Tanpa bantuan.
Dan muncung orang tua itu bilang baik-baik aja?”
Ia tertawa pendek. Patah.
“Well… I’m done, Jhon. I’m done. My government fucking sucks.”
Aku ingin berargumen, tapi semua tertahan di tenggorokan. Tak ada yang salah dari ucapannya. Rasanya ingin menamparnya pakai ceret. Tapi setelah kupikir lagi, tak ada yang benar-benar bisa dibantah. Aneh rasanya—untuk pertama kali selama kami berteman, ucapan si bangsat ini sepenuhnya masuk akal.
Aku menyeruput kopi lagi.
Masih kopi yang sama.
Tapi rasanya jauh lebih pahit. Lebih getir.
Seorang siswa SD datang bersama ibunya. Mereka meletakkan dagangan di sudut kedai, lalu menghitung sisa laba kemarin. Aku heran—kenapa ada anak sekolah di situasi seperti ini.
“Hey… sini,” panggilku. “Namanya siapa, Nak?”
“Gibran, Om.”
“Eh, jangan panggil Om. Kami masih muda dari ibumu.”
“Tapi Om ini mukanya kayak kakekku,” katanya polos, menunjuk Ucok.
Ucok hampir menyemburkan kopi, tapi tertahan saat melihat ibu anak itu—yang entah kenapa masih terlihat cantik sebaya dengannya.
“Kalau yang ini wajar dipanggil Om,” kataku. “Panggil kami Abang aja.”
“Siap, Bang.”
“Kelas berapa?”
“Kelas lima SD, Bang.”
“Emang hari ini sekolah? Kan banjir.”
“Iya, Bang. Pengen sekolah aja.”
Ucok menahan tawa. Aku mencubit lambungnya pelan.
“Kalau besar nanti,” tanya Ucok, “cita-citanya mau jadi apa?”
Anak itu diam cukup lama. Seperti sedang menimbang masa depan yang belum sempat ia kenal.
“Yang penting bisa kerja, Om,” jawabnya mantap.
Aku dan Ucok saling pandang.
Anak seusia itu seharusnya bingung memilih cita-cita, bukan memilih kenyataan.
Aku mengangguk pura-pura paham. Dalam hati ingin tertawa, tapi juga ingin minta maaf.
Pertanyaan yang seharusnya gratis, tapi jawabannya mahal.
“Assalamualaikum, my brother,” sapa Ust Dika yang baru datang.
“Waalaikumsalam,” jawab kami serempak.
Gibran kembali membantu ibunya membereskan dagangan. Aku menceritakan percakapan tadi ke Ust Dika.
“Di zaman kita kecil,” katanya pelan, “ingin jadi dokter, pilot… YouTuber maybe. Baru kali ini aku dengar anak seusia itu jawab begitu.”
“Menurutku nggak heran, Bang,” Ucok mencerocos.
“PHK di mana-mana. Harga pangan menggila. Sekarang bencana alam pun dibilang baik-baik aja. Realistis aja. Jawaban bocah itu mungkin interpretasi zamannya.”
Ust Dika tiba-tiba menyeruput kopiku yang hampir habis.
“Dulu,” katanya, “anak-anak ditanya cita-cita supaya mereka berani bermimpi. Sekarang mereka jawab seperlunya, supaya tidak kecewa.”
Ia menatapku, bukan ke Ucok.
“Kadang kita marah ke negara,” lanjutnya pelan,
“tapi lupa bertanya: hari ini kita sudah menjaga siapa?”
Kalimat itu lebih pahit dari kopi.
Aku merogoh dompet. Meletakkan beberapa lembar di meja—lebih dari harga kopi.
“Bu,” kataku, “pesanan anak itu sama ibunya aku yang bayar.”
Ust Dika diam.
Ucok menoleh, tak berkomentar.
“Padahal,” kata Ust Dika kemudian, lebih pelan,
“dalam Al-Qur’an kita diingatkan untuk menjaga diri dan keluarga. Bukan cuma dari neraka—tapi juga dari hidup yang terlalu keras sebelum waktunya.”
Aku mengangguk.
Ucok ikut mengangguk. Itu jarang.
“Anak-anak itu amanah,” lanjutnya.
“Kalau mereka berhenti menyebut mimpi, biasanya bukan karena lemah. Tapi karena orang dewasa terlalu sering bilang: hidup ini berat.”
Aku menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Dari tadi kuminum, tapi tak pernah benar-benar masuk ke tenggorokan.
Di luar, hujan turun lagi. Pelan. Cukup untuk mengingatkan kenapa listrik mati, air susah, dan bantuan seperti janji yang salah alamat.
Gibran melintas di depan kedai. Tasnya basah. Sepatunya kotor. Tapi langkahnya ringan. Ia melambai. Aku balas melambai.
“Dulu,” gumamku dalam hati, “anak-anak ingin jadi sesuatu. Sekarang mereka hanya ingin bertahan.”
Ponselku bergetar.
Grup keluarga. Grup teman. Grup kerja.
Isinya sama:
Apa kabar?
Tak ada yang benar-benar ingin tahu jawabannya.
Pertanyaan itu cuma basa-basi nasional.
“Kalian kalau ditanya apa kabar,” tanyaku pelan, “jawab apa?”
“Masih hidup, Bang,” kata Ucok.
“Masih diberi kesempatan,” kata Ust Dika.
Aku mengangguk.
Indonesia 2025 mungkin tidak sedang baik-baik saja. Tapi seperti kami di kedai kopi Semalam Suntuk—tetap buka, tetap nyeduh kopi, tetap bertanya kabar meski tahu jawabannya berat.
Aku menyesap kopi terakhirku.
Pahit.
Getir.
Tapi masih hangat.
Mungkin begini rasanya menjawab pertanyaan itu hari ini:
apa kabar?