Mr. Nobody | Semarang, 28 Desember 2025
Kalau ditanya siapa orang yang paling berdampak di hidupku tahun ini,
jawabanku agak gak enak didengar.
Aku sendiri.
Bukan karena aku hebat.
Tapi karena tahun ini aku akhirnya gak terlalu nyusahin diriku sendiri.
Tahun ini hidupku stabil.
Bukan mapan.
Stabil itu artinya aku gak lagi buka aplikasi bank sambil mikir,
“anjing, ini salah siapa lagi.”
Uangku gak banyak.
Tapi cukup bikin aku gak panik tiap tanggal tua.
Emosiku juga stabil.
Bukan berarti aku gak kesel.
Aku masih bisa kesel.
Cuma sekarang aku tahu,
mana yang perlu dibalas,
mana yang cukup dikata-katain di kepala.
Ucok suatu hari bilang sambil ngopi,
“Jhon, kau sadar gak kau ini sekarang aneh.”
“Aneh kenapa?”
“Biasanya kau ribut.
Sekarang kau diem tapi gak depresi.”
Aku ketawa.
“Mungkin aku capek ribut.”
Ucok ngangguk.
“Itu tanda umur.”
Salah satu target pribadiku tahun ini tercapai juga.
Donor darah ke-25.
Waktu petugas PMI bilang,
“Mas, ini sudah 25 kali ya,”
aku langsung mikir,
kok aku bisa konsisten nyumbang darah,
tapi dulu hidupku berantakan ke mana-mana.
Ucok dengar ceritanya langsung nyeletuk,
“Berarti darahmu lebih setia daripada beberapa orang di hidupmu.”
Aku gak bantah.
Takut bener.
Terus datanglah Agustus.
Bulan yang di kalender kelihatannya cerah,
tapi di hidupku sering kayak prank.
Di bulan itu, banyak hal rontok barengan.
Proyek gagal.
Uang habis.
Dan rencana nikah bubar.
Bukan karena aku gak cinta.
Tapi karena aku baru sadar,
ternyata aku sendirian di hubungan itu.
Aku tahu orang yang ingin kunikahi
punya cerita lain di belakangku.
Bahkan lebih dari satu.
Aneh rasanya.
Aku gak teriak.
Gak ngamuk.
Aku cuma bengong lama.
Ucok duduk di sebelahku waktu itu.
“Gimana?” katanya.
“Masih mau nikah?”
Aku jawab jujur,
“Masih. Tapi sama orang yang gak punya cowok cadangan.”
Ucok ketawa.
“Masuk akal.”
Di bulan yang sama, badanku juga ikutan rusak.
Tuberkulosis paru.
Bukan kata yang ingin kudengar,
tapi badanku kayak bilang,
“Bro, stop dikit boleh gak.”
Sejak itu aku mulai lari.
Bukan buat sehat-sehatan ala Instagram.
Aku lari karena paru-paruku butuh dilatih.
Aku lari pelan.
Pendek.
Kadang kalah sama ibu-ibu bawa belanjaan.
Ucok pernah bilang,
“Orang lain lari dari masalah.
Kau malah lari sama penyakit.”
Aku jawab sambil ngos-ngosan,
“Setidaknya aku gak diem.”
Aku juga mulai melukis lagi.
Bukan karena bakat.
Bukan karena pengen dibilang seniman.
Aku melukis karena kepalaku ribut.
Dan kanvas itu gak pernah nyela.
Ucok lihat satu lukisanku.
“Ini lukisan apa?”
“Isinya kepalaku.”
Ucok nengok lama.
“Pantes berantakan.”
Aku ketawa.
“Makanya kutaruh di situ.”
Dan panahan.
Ini yang paling jujur.
Aku panahan bukan buat lomba.
Aku panahan buat stres.
Karena waktu narik busur,
aku cuma boleh mikir satu titik.
Kalau pikiranku ke mana-mana,
panahnya nyasar.
Ucok pernah bilang sambil lihat target,
“Hidupmu dulu kayak panah ini.”
Aku jawab santai,
“Iya. Makanya sekarang satu-satu.”
Kalau mau jujur-jujurnya,
aku juga gak sepenuhnya paham kenapa semua ini bisa kejadian.
Aku gak bangun pagi terus bilang,
“Hari ini aku akan stabil.”
Enggak.
Aku bangun karena jam weker bunyi.
Kadang kesiangan.
Kadang lupa mandi.
Aku lari bukan karena disiplin,
tapi karena takut batuk makin parah.
Aku melukis bukan karena tercerahkan,
tapi karena kepalaku ribut dan butuh disibukkan.
Aku panahan bukan karena Yi Sun-sin, hero moble legend,
tapi karena pengen mukul atau nusuk sesuatu tanpa masuk penjara.
Dan entah gimana,
dari keputusan-keputusan setengah sadar itu,
hidupku malah jadi sedikit lebih rapi.
Bukan rapi kayak rumah orang sukses,
tapi rapi kayak kamar orang capek
yang akhirnya nyapu karena gak tahan lihat debu.
Ust Dika suatu sore lihat kebiasaan baruku.
“Kau berubah,” katanya.
Aku geleng.
“Aku cuma gak mau ribut lagi.”
Ust Dika senyum.
“Kadang itu bentuk perubahan yang paling jujur.”
Yang paling ajaib datang belakangan.
Seseorang dari sepuluh tahun lalu muncul lagi.
Orang yang dulu sangat serius nemenin hidupku.
Tahun lalu, namanya aja bikin aku ambyar.
Sekarang… beda.
Masih inget.
Masih ada rasa.
Tapi gak nyeret.
Ucok nanya singkat,
“Masih bikin jungkir balik?”
Aku geleng.
“Masih inget,” kataku.
“Tapi sekarang inget sambil duduk bareng.”
Ucok ngangguk puas.
“Berarti kau udah di tempatmu.”
Sebelum nutup cerita ini,
aku mau bilang terima kasih.
Ke diriku sendiri.
Karena gak nyerah walau sering bingung.
Karena tetap bangun walau gak tahu mau ngapain.
Ucok pernah bilang,
“Jhon, kau keras kepala.”
Mungkin iya.
Tapi keras kepala juga bisa nyelametin orang kalau dipakai buat hidup.
Dan ke Allah.
Terima kasih karena ngasih cukup kuat.
Bukan buat ngilangin masalah,
tapi buat bikin aku sanggup ngejalaninnya.
Aku gak selalu paham rencana-Mu.
Kadang aku protes.
Kadang aku diem.
Tapi entah kenapa,
aku selalu masih berdiri.
Aku masih badan yang sama.
Beratnya juga kurang lebih segini.
Tapi aku bukan orang yang sama seperti tahun sebelumnya.
Dan kali ini,
aku bisa bilang itu
sambil ketawa kecil.