Mr. Nobody | Medan, 29 Desember 2025
Tahun ini aku belajar banyak hal.
Masalahnya, gak ada satupun yang bisa difoto.
Gak ada sertifikat.
Gak ada seminar.
Gak ada caption LinkedIn yang bikin orang lain minder.
Yang ada cuma perubahan kecil yang kalau diceritain ke orang,
responnya biasanya,
“Oh… gitu doang?”
Iya.
Gitu doang.
Tapi mahal.
Ucok pertama kali sadar aku berubah bukan karena aku bijak,
tapi karena aku gak reaktif.
“Jhon,” katanya suatu sore,
“kau ini kenapa sekarang susah dipancing?”
“Dipancing gimana?”
“Dulu dikit-dikit kau jawab.
Sekarang kau baca, terus diem.”
Aku mikir sebentar.
“Capek.”
Ucok ngangguk.
“Oh… kau belajar skill baru.”
“Skill apa?”
“Bodo amat.”
Awalnya aku juga gak sadar itu skill.
Aku pikir aku cuma males.
Chat masuk.
Aku baca.
Aku mikir.
Terus aku gak jawab.
Bukan karena sombong.
Bukan karena sok sibuk.
Tapi karena setelah kupikir-pikir,
kalau kujawab, aku harus jelasin banyak hal,
dan aku lagi gak pengen jelasin apa-apa.
Ucok ketawa waktu dengar alasanku.
“Itu bukan bodo amat, Jhon,” katanya.
“Itu hemat energi.”
“Iya juga ya.”
“Dulu energimu habis buat orang lain.
Sekarang kau simpan buat dirimu sendiri.
Telat, tapi gak bodoh.”
Aku tersenyum.
Baru kali ini aku dipuji sambil dihina.
Skill kedua datang tanpa aku rencanakan:
manajemen keuangan.
Aku gak belajar Excel.
Gak baca buku finansial.
Aku cuma… trauma.
Dulu aku miskin tapi sok royal.
Sekarang aku miskin tapi sadar diri.
Kalau dulu beli karena pengen,
sekarang beli karena mikir.
Kalau dulu transfer sambil tutup mata,
sekarang transfer sambil mikir,
“Ini nanti makan apa?”
Ucok ngejek tanpa dosa.
“Dulu kau bokek tapi gaya.
Sekarang kau bokek tapi tenang.”
“Tenang itu penting,” jawabku.
“Tenang itu langka,” balasnya.
“Banyak orang duitnya banyak tapi hidupnya ribut.”
Aku angguk.
Untuk pertama kalinya,
aku setuju sama Ucok tanpa debat.
Skill ketiga datang pelan-pelan,
dan ini yang paling bikin aku kaget:
komunikasi.
Aku belajar bahwa gak semua hal harus dijelaskan.
Gak semua kesalahpahaman perlu diluruskan.
Dan gak semua orang layak dapet versi lengkap dari pikiranku.
Dulu aku suka klarifikasi.
Sekarang aku suka tidur.
Ucok ngetawain perubahan ini.
“Kau ini aneh,” katanya.
“Dulu mulutmu duluan.
Sekarang otakmu nyalip.”
“Diam ternyata murah,” jawabku polos.
Ucok ngakak.
“Dan efektif.”
Kalau digabung,
tiga skill ini kelihatannya sepele:
Bodo amat.
Ngatur uang.
Ngomong seperlunya.
Tapi efeknya gak main-main.
Aku jarang ribut.
Jarang bokek.
Jarang nyesel.
Menurutku itu kemajuan.
Ucok skeptis.
“Jadi semua skill yang kau pelajari tahun ini itu apa?”
“Bodo amat, irit, sama diem?”
“Iya.”
Ucok nyengir.
“Hidupmu murah amat.”
Pak Dika yang dari tadi diem akhirnya bicara.
“Murah di luar,” katanya pelan,
“tapi mahal di dalam.”
Ucok langsung diem.
Aku juga.
Pak Dika lanjut, pelan tapi jelas:
‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.’
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Terus beliau nambah satu kalimat aja:
“Kadang perubahan itu bukan nambah kemampuan,
tapi buang kebiasaan.”
Habis itu,
sunyi.
Ucok ngelirik aku.
“Gila,” katanya.
“Kita bercanda, dia nutup pake ayat.”
Aku senyum kecil.
“Makanya dia Ustadz.”
Kalau dipikir-pikir,
aku memang gak nambah skill yang kelihatan.
Aku gak jadi lebih pintar.
Gak jadi lebih cepat.
Gak jadi lebih hebat.
Aku cuma jadi lebih sedikit.
Sedikit ngomong.
Sedikit reaktif.
Sedikit belanja.
Sedikit ribut.
Dan anehnya,
hidupku malah lebih ringan.
Sebenarnya, aku baru sadar belakangan.
Aku gak belajar semua skill itu karena ingin jadi lebih baik.
Aku belajar karena kalau gak berubah, hidupku capek sendiri.
Aku gak bodo amat karena tercerahkan.
Aku bodo amat karena kalau semua kupikirkan,
kepalaku gak muat.
Aku gak ngatur uang karena bijak.
Aku ngatur uang karena pernah gak punya
dan gak pengen ngerasain itu lagi.
Aku gak belajar komunikasi karena dewasa.
Aku belajar diam karena pernah terlalu banyak ngomong
dan nyesel sendirian.
Dan ternyata,
alasan-alasan yang kelihatannya kecil itu
justru yang paling sering dialami orang.
Ucok suatu hari bilang sambil ketawa,
“Jhon, hidupmu sekarang kayak orang yang sudah kapok.”
Aku jawab jujur,
“Iya.”
Kapok sama ribut yang gak selesai.
Kapok sama sok kuat.
Kapok sama merasa harus menjelaskan diri ke semua orang.
Dan mungkin,
itulah awal dari skill yang sebenarnya.
Bukan skill buat naik level.
Tapi skill buat gak jatuh ke lubang yang sama.
Pak Dika sempat bilang pelan waktu kami diem-dieman,
“Hidup itu sering berubah bukan karena kita pintar,
tapi karena kita sudah cukup capek.”
Aku waktu itu ketawa kecil.
Sekarang aku paham.
Banyak orang gak butuh motivasi.
Gak butuh teori.
Gak butuh kalimat indah.
Yang dibutuhkan cuma satu:
cukup sadar kapan harus berhenti.
Berhenti ngejar validasi.
Berhenti merasa harus selalu benar.
Berhenti memaksakan diri di tempat yang gak ramah.
Kalau hari ini kamu ngerasa hidupmu pelan,
mungkin itu bukan kemunduran.
Mungkin kamu cuma lagi belajar
skill yang gak bisa dipamerkan,
tapi bikin hidup lebih tahan lama.
Banyak orang mengira hidup harus naik terus.
Padahal kadang yang dibutuhkan cuma
tidak jatuh sedalam kemarin.
Aku masih badan yang sama.
Beratnya juga kurang lebih segini.
Tapi aku bukan orang yang sama seperti tahun sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya,
aku gak merasa perlu membuktikan apa-apa.