Mr. Nobody | Medan, 30 Desember 2025
Aku datang ke Semalam Suntuk bukan karena kopinya enak.
Kalau jujur-jujurnya, kopinya kadang pahit, kadang gosong, kadang kayak air kenangan.
Aku datang karena di sini orang-orang duduk tanpa alasan.
Bangkunya beda tinggi.
Mejanya goyang.
Gelasnya gak seragam.
Tapi semua orang boleh duduk.
Ucok sudah duluan. Seperti biasa.
“Kau lama kali,” katanya tanpa menoleh.
“Macet?” tanyaku.
“Bukan. Negara ini aja yang ribut.”
Aku duduk.
Pesan kopi.
Dan seperti biasa, hidup mulai terasa agak waras setelah gelas pertama.
Di Semalam Suntuk, ada tukang ojek yang ngobrol soal bensin.
Ada mahasiswa yang debat ideologi sambil ngutang kopi.
Ada bapak pensiunan yang cuma pengen diam.
Ada juga orang yang ribut politik, padahal besoknya tetap bangun pagi.
“Negara ini ribut,” kata Ucok sambil ngaduk kopi,
“tapi warung kopi ini selalu damai.”
Aku mengangguk.
Karena di sini, semua orang ribut duduk.
Aku sering mikir,
kalau Indonesiaku seperti warung kopi,
mungkin banyak hal gak perlu dibesarin.
Di warung kopi, orang boleh salah ngomong.
Paling diketawain.
Bukan diburu.
Di warung kopi, pendapat gak dinilai dari jabatan.
Yang dinilai dari siapa yang bayar duluan.
“Di sini,” kata Ucok,
“yang berkuasa itu yang punya uang receh.”
“Berarti demokratis,” jawabku polos.
Ucok ketawa.
“Kau cocok jadi menteri receh.”
Di TV, semua kalimat rapi.
“Situasi terkendali.”
“Dalam proses evaluasi.”
“Kami prihatin.”
Di warung kopi, kalimatnya pendek.
“Bang, air mati.”
“Bang, listrik padam.”
“Bang, kopi pahit.”
Dan anehnya,
aku lebih percaya yang di warung kopi.
Ucok nyeletuk,
“Kalau basa-basi bisa dimakan,
kita kenyang dari dulu.”
Aku nyengir.
“Kalau kejujuran bisa diminum,
kopi ini sudah cukup.”
Aku gak mau Indonesiaku sempurna.
Aku cuma mau Indonesiaku jujur.
Jujur kalau capek.
Jujur kalau belum bisa.
Jujur kalau salah.
Di warung kopi, orang gak pura-pura kuat.
Kalau capek, bilang capek.
Kalau gak punya uang, ngutang.
“Di sini,” kata Ucok,
“utang itu bukan aib.
Yang aib itu ngilang.”
Aku mengangguk.
“Berarti akhlak.”
“Berarti logika,” balasnya.
Ada momen ketika warung kopi jadi pengadilan kecil.
Bukan buat menghukum,
tapi buat didengar.
Satu orang ngomel.
Yang lain nyahut.
Lalu tertawa.
Masalahnya gak selalu selesai.
Tapi kepalanya jadi lebih ringan.
Aku mau Indonesiaku seperti itu.
Masalah boleh ada.
Tapi jangan bikin orang sendirian.
Ucok tiba-tiba nanya,
“Jhon, kau ini sebenernya mau apa sih sama negara ini?”
Aku mikir.
Aku lihat kopi yang sudah dingin.
“Aku mau duduk,” jawabku.
“Duduk?”
“Iya. Duduk bareng.”
Ucok mendengus.
“Negara ini jarang duduk.
Isinya berdiri semua.”
“Mungkin capek berdiri,” kataku.
“Makanya gampang jatuh.”
Bang Dika datang belakangan.
Seperti biasa, dia gak langsung bicara.
Duduk.
Pesan kopi.
Minum pelan.
Kami diem sebentar.
Di Semalam Suntuk, diam itu bagian dari obrolan.
“Kenapa kalian ribut?” tanya Bang Dika akhirnya.
“Kami lagi diskusi negara,” kata Ucok.
“Versi warung kopi,” tambahku.
Bang Dika senyum tipis.
“Versi paling jujur,” katanya.
Ucok nyengir.
“Yang jujur itu biasanya dimarahin.”
Bang Dika menatap gelas kopinya.
Lalu bicara pelan,
tapi kalimatnya jatuh pas.
“Wahai orang-orang yang beriman,
jadilah kamu penegak keadilan.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Kami diam.
“Adil itu,” lanjut Bang Dika,
“bukan berdiri paling tinggi.
Tapi mau duduk sejajar.”
Ucok melirikku.
“Kau dengar?
Ustadz aja duduk.”
Aku senyum kecil.
“Makanya kopi dia gak pernah tumpah.”
Di warung kopi,
orang belajar menunggu.
Menunggu giliran bicara.
Menunggu kopi dingin.
Menunggu emosi turun.
Di negara,
orang sering gak mau nunggu.
Maunya cepat.
Cepat marah.
Cepat menyimpulkan.
Ucok berkata,
“Negara ini butuh kursi, bukan podium.”
Aku menimpali,
“Dan butuh telinga, bukan mikrofon.”
Kami ketawa.
Padahal yang kami bilang gak lucu-lucu amat.
Aku perhatikan orang-orang di Semalam Suntuk.
Ada yang pulang dengan masalah yang sama.
Ada yang pulang dengan jawaban baru.
Ada yang pulang cuma karena kopinya habis.
Tapi semua pulang lebih ringan.
Itu yang aku mau.
Aku gak mau Indonesiaku mewah.
Aku mau Indonesiaku mau duduk.
Gak harus sepakat.
Gak harus akur.
Tapi mau dengar.
Ucok menghela napas.
“Kau ini idealis kali.”
“Enggak,” jawabku.
“Aku cuma pengen ngopi tenang.”
Kopi kami habis.
Warung mulai sepi.
Bangku masih goyang.
Ucok berdiri duluan.
“Kita pulang?”
“Iya.”
Bang Dika tersenyum sebelum bangkit.
“Jaga duduknya,” katanya.
“Biar gak jatuh.”
Aku mengangguk.
Aku gak sepenuhnya paham,
tapi aku paham rasanya.
Aku mau Indonesiaku seperti warung kopi Semalam Suntuk.
Ribut boleh.
Berbeda boleh.
Tapi duduk dulu.
Minum pelan.
Dengar sebentar.
Karena kadang,
yang kita butuhkan bukan jawaban cepat,
tapi kursi yang cukup.
Dan kopi yang,
walaupun pahit,
masih bisa diminum bareng.