Day 14
Final Chapter
Final Chapter
Mr. Nobody | Medan, 31 Desember 2025
Kalau aku jujur,
aku agak takut ngomong soal 2026.
Bukan karena aku gak punya rencana.
Justru karena kali ini rencananya terlalu jelas.
Aku mau 2026-ku jadi tahun aku membangun mimpi besar.
Pindah kerja yang lebih layak.
Menikah.
Punya finansial yang sangat stabil.
Kalimatnya rapi.
Targetnya kelihatan dewasa.
Kalau dibaca orang, mungkin dikira aku sudah siap.
Padahal belum tentu.
Aku belajar satu hal di tahun ini:
rencana itu bukan masalah.
Yang sering jadi masalah itu keyakinan palsu.
Dulu aku pernah yakin setengah mati.
Dan jatuhnya juga setengah mati.
Makanya sekarang,
setiap kali aku bilang “aku mau”,
kepalaku langsung nyelip satu kalimat kecil:
“kau yakin?”
Ucok tentu orang pertama yang mengucapkan itu dengan suara keras.
“Jhon,” katanya sambil ngopi,
“kau ini serius kali ngomong 2026.”
Aku mengangguk.
“Ini penutup tahun, Cok.”
“Bah,” katanya.
“Biasanya orang penutup tahun itu antara sok optimis atau sok ikhlas.”
Aku mikir sebentar.
“Kalau aku sok capek boleh gak?”
Ucok ketawa.
“Justru itu paling jujur.”
Aku mau 2026-ku dibangun, bukan dibuktikan.
Aku gak mau lagi hidup dengan semangat pamer kesiapan.
Aku gak mau terlihat hebat di luar,
tapi ribut sendiri di dalam.
Pindah kerja, buatku sekarang bukan soal gengsi.
Bukan soal titel.
Bukan soal bisa cerita ke orang.
Aku cuma mau kerja di tempat
yang ngasih upah layak dan pulang gak bawa dendam.
Ucok nyeletuk,
“Berarti kau mau kerja yang bikin kau masih bisa ketawa ya?”
“Iya.”
“Standarmu turun.”
“Enggak,” jawabku.
“Standarku sadar diri.”
Soal menikah,
aku juga gak mau ribut.
Aku gak mau menikah karena umur.
Bukan karena tekanan.
Bukan karena semua orang nanya hal yang sama di tiap kumpul keluarga.
Aku mau menikah karena
aku bisa duduk tenang di sebelah orang itu
tanpa harus jadi versi palsu diriku sendiri.
Ucok nyengir.
“Kau trauma ya?”
Aku angguk jujur.
“Iya.”
“Bagus,” katanya.
“Trauma itu guru yang galak tapi niat.”
Finansial stabil juga begitu.
Aku gak bermimpi jadi kaya raya.
Aku cuma mau bangun pagi tanpa deg-degan.
Buka rekening tanpa narik napas panjang.
Ngambil keputusan tanpa panik.
Dulu aku pikir stabil itu kecil.
Sekarang aku tahu:
stabil itu mahal.
Ucok bilang,
“Dulu kau pengen kaya.
Sekarang kau pengen tenang.”
Aku jawab polos,
“Aku capek miskin dan capek sok kaya.”
Ucok tertawa lama.
“Itu kalimat orang yang sudah muter jauh.”
Masalahnya,
setiap kali aku terlalu serius membayangkan 2026,
kepalaku mulai berat.
Semua kelihatan seperti presentasi hidup.
Slide demi slide.
Target demi target.
Sampai akhirnya aku sadar satu hal konyol:
aku ini bukan perusahaan.
Aku manusia.
Dan manusia kalau kebanyakan target,
biasanya lupa bernapas.
Bang Dika datang belakangan, seperti biasa.
Kami gak langsung cerita.
Kami minum dulu.
“Apa yang kau kejar di 2026?” tanyanya akhirnya.
Aku jawab panjang.
Kerja.
Nikah.
Finansial.
Ucok nambah,
“Pokoknya versi mapan.”
Bang Dika mengangguk pelan.
“Kau tau,” katanya,
“banyak orang gagal bukan karena mimpinya besar,
tapi karena mimpinya lebih cepat dari dirinya sendiri.”
Aku diem.
“Kau gak salah bermimpi,” lanjutnya.
“Tapi jangan tinggalkan dirimu yang sekarang cuma demi versi nanti.”
Kalimatnya tenang.
Tapi nyantol.
Setelah Bang Dika pulang,
Ucok menatapku lama.
“Jhon,” katanya,
“kau ini sebenernya pengen jadi siapa sih di 2026?”
Aku mikir lama.
Lama banget.
“Aku pengen jadi orang yang sama,” jawabku akhirnya.
Ucok bengong.
“Apanya yang sama?”
“Aku,” kataku.
“Cuma hidupnya gak ribut.”
Ucok ketawa kecil.
“Buset.
Aku kira kau mau jawab CEO atau kepala rumah tangga.”
“Kalau aku kejar itu dulu,” jawabku,
“aku takut kehilangan diri sendiri.”
Lucunya,
di tengah semua rencana besar itu,
aku malah kepikiran hal sepele.
Aku pengen di 2026 nanti
aku masih bisa duduk ngopi
tanpa ngerasa dikejar waktu.
Aku pengen bisa bilang “belum”
tanpa merasa gagal.
Aku pengen bangun hidup
dengan tangan kotor,
bukan dengan kalimat manis.
Dan di titik itu,
semua set-up serius ini akhirnya patah oleh satu kesadaran paling gak terduga:
aku gak mau 2026-ku kelihatan sukses.
aku mau berfungsi.
Bisa kerja tanpa membenci pagi.
Bisa menikah tanpa menyelamatkan diri sendiri.
Bisa punya uang tanpa kehilangan tidur.
Ucok menyeringai.
“Jadi mimpi besarmu apa sekarang?”
Aku nyengir.
“Gak goblok ngulang kesalahan yang sama.”
Ucok tepuk meja.
“Anjir.
Itu mimpi paling mahal yang pernah kau punya.”
Karena ini narablog terakhir tahun ini,
aku mau nutup dengan jujur.
Aku gak tau apakah semua rencana 2026 akan tercapai.
Aku gak berani janji.
Tapi satu hal aku pegang:
aku mau membangun 2026-ku pelan-pelan.
Dengan kaki di tanah.
Dengan kepala waras.
Dengan mimpi yang besar,
tapi tidak mendahului diriku sendiri.
Aku mau 2026-ku jadi.
Bukan kelihatan jadi.
Dan kalau nanti aku jatuh lagi,
setidaknya aku jatuh
sebagai diriku sendiri.
Itu saja sudah cukup.
Kalimat terakhir, buat diriku sendiri:
aku gak minta 2026 memberiku segalanya.
aku cuma minta jangan diambil lagi diriku.
Sampai jumpa tahun depan.