Mr. Nobody | Medan, 19 Desember 2025
Aku duduk di kedai kopi Semalam Suntuk, memandangi layar ponsel seperti orang yang lagi khusyuk. Bukan baca kitab. Aku sedang scroll media sosial.
Dalam lima menit, jariku sudah:
like donasi bencana,
share ayat motivasi,
comment “MasyaAllah, luar biasa” di video orang bagi-bagi sembako,
dan sempat menghela napas panjang seolah hidupku penuh empati.
Kalau pahala bisa dihitung dari jempol, mungkin aku sudah antre surga jalur cepat.
Brakkkkk.
“Bang,” suara itu datang bersama kursi yang ditarik kasar, “kau dari tadi ibadah apa?”
Aku menoleh. Ucok. Seperti biasa, datang tanpa salam dan tanpa perasaan.
“Scroll,” jawabku jujur.
Ucok melirik ponselku. “Oh. Ibadah jempol.”
Aku tidak tersinggung. Karena ada benarnya. Jariku memang rajin akhir-akhir ini. Rajin peduli. Rajin prihatin. Rajin sedih melihat penderitaan orang yang jaraknya minimal tiga provinsi dari tempatku duduk.
“Bang,” lanjut Ucok sambil menyeruput kopi, “kalau jempolmu masuk surga duluan, tolong bilang aku ya. Biar aku nyusul.”
“Kau ini,” kataku, “zaman sekarang empati itu digital, Cok.”
Ucok tertawa. “Empati kok pakai kuota.”
Aku pura-pura tidak dengar. Fokus ke layar lagi. Ada video anak kecil kebanjiran. Aku like. Ada thread panjang soal negara. Aku like. Ada quote bijak dari akun yang fotonya lagi di mobil mewah. Aku like juga. Biar adil.
“Bang,” kata Ucok lagi, “kau tau gak? Dari tadi kau menyelamatkan dunia, tapi gelas kopimu belum kau sentuh.”
Aku menatap kopi yang sudah mulai dingin. Benar juga. Jariku sibuk, tapi tenggorokanku kering.
“Tenang,” kataku. “Ini multitasking.”
Ucok mengangguk sok paham. “Iya. Multitasking penderitaan.”
Aku ingin membalas, tapi tiba-tiba sadar: ibu pemilik kedai dari tadi mondar-mandir angkat galon sendirian. Aku lihat. Tapi cuma lihat. Tanganku tetap di layar.
Aku like satu postingan lagi.
“Bang,” Ucok menunjuk keluar, “itu tukang parkir dari tadi berdiri kehujanan.”
Aku menoleh sebentar. Lalu kembali ke ponsel.
“Dia nyata, Bang,” kata Ucok. “Bukan konten.”
Aku mendesah. “Santai, Cok. Semua ada waktunya.”
Ucok mengangguk. “Iya. Kalau kuotanya masih ada.”
Saat itulah Ust Dika datang. Seperti biasa, datang tanpa suara, tanpa ribut, dan tanpa ponsel di tangan. Ia duduk, memesan kopi, lalu menatapku yang masih sibuk scroll.
“Lagi apa?” tanyanya pelan.
“Ibadah,” jawab Ucok cepat. “Ibadah jempol.”
Aku melotot ke Ucok. Ust Dika tersenyum kecil. Senyum orang yang tahu, tapi tidak ingin menghakimi.
Ia hanya berkata satu kalimat, sambil mengaduk kopinya perlahan.
“Kadang yang rajin ibadah itu jempol kita,” katanya, “bukan hati kita.”
Lalu diam.
Tidak ada ceramah. Tidak ada ayat panjang. Hanya itu. Tapi kalimat itu jatuh tepat di tengah dadaku. Lebih keras dari notifikasi apa pun.
Aku menatap layar. Ada postingan baru. Judulnya besar: “Lihat sampai habis.”
Aku menatap ibu pemilik kedai. Tukang parkir di luar. Gelas kopi yang dingin. Ponsel di tanganku.
Aku menghela napas.
Pelan-pelan, aku mematikan layar.
Ucok terdiam. Ust Dika tidak bereaksi. Seolah tindakan kecil itu bukan apa-apa. Padahal bagiku, itu berat.
Aku berdiri. Membayar kopi. Lebih dari seharusnya.
“Bu,” kataku, “kopi ibu sama bapak parkir di luar saya yang bayar.”
Ibu itu terkejut. Tukang parkir menoleh. Ucok mengangkat alis. Ust Dika hanya mengangguk kecil, seperti sudah menduga.
Aku duduk kembali.
Tanganku terasa ringan. Tidak ada notifikasi. Tidak ada like. Tidak ada share. Aneh. Sunyi.
“Bang,” kata Ucok pelan, “kok kau gak scroll lagi?”
Aku mengangkat bahu. “Jariku capek.”
Ucok tertawa. “Baru kali ini aku lihat jempolmu pensiun.”
Ust Dika menyeruput kopi. “Kadang,” katanya ringan, “kita gak perlu lihat semuanya. Cukup hadir di satu tempat.”
Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar duduk.
Aku menatap kopi. Menyesapnya.
Masih pahit.
Masih panas.
Tapi entah kenapa, rasanya lebih masuk.
Hari itu aku tidak menyelamatkan dunia.
Aku cuma tidak scroll.
Mungkin benar:
jariku memang lebih saleh dariku.
Tinggal aku yang nyusul.