Mr. Nobody | Medan, 20 Desember 2025
Rencana 2025 di kertas bekas struk belanja.
Bukan karena aku minimalis.
Tapi karena memang segitu aja rencanaku.
Isinya dua baris. Tidak lebih.
Finansial stabil di umur 25
Donor darah ke-25
Aku baca ulang.
Tidak ada kata “kaya”.
Tidak ada kata “sukses”.
Tidak ada kata “rumah”.
Kelihatan seperti rencana orang yang sudah capek duluan.
Ucok melirik kertas itu sambil mengunyah gorengan.
“Bang,” katanya, “itu rencana hidup apa catatan hutang?”
“Rencana,” jawabku.
Ucok membaca lagi. Lama.
“Ini rencana orang pesimis ya?”
“Bukan,” kataku. “Ini rencana orang realistis.”
Ucok tertawa. “Realistis apanya? Finansial stabil itu maksudnya apa? Kaya?”
Aku geleng. “Stabil itu… gak panik.”
“Gak panik gimana?”
“Gak panik kalau saldo tinggal dua digit. Gak pura-pura sibuk biar gak diajak ngopi. Gak deg-degan tiap HP bunyi, takut itu aplikasi pinjol.”
Ucok terdiam.
“Bang,” katanya pelan, “itu bukan stabil. Itu trauma.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Ucok lanjut baca baris kedua.
“Donor darah ke-25?”
“Iya.”
“Kau ini kenapa? Duit kau seret, darah kau malah kau bagi-bagi.”
Aku mikir sebentar.
“Karena itu satu-satunya yang masih lancar.”
Ucok hampir nyembur.
“Logika apa itu?”
“Logika orang miskin tapi masih ingin berguna.”
Ucok menggeleng. “Aneh kali kau.”
“Makanya aku tulis di struk, bukan di buku mimpi.”
Ust Dika datang. Duduk. Melihat kami ribut.
Matanya jatuh ke kertas di meja.
“Ini rencana 2025?” tanyanya.
“Iya, Bang,” jawab Ucok. “Rencana orang yang sudah menyerah tapi belum mati.”
Aku protes. “Bukan menyerah. Menyesuaikan.”
Ust Dika membaca pelan. Lalu senyum kecil.
“Rencana seperti ini jarang,” katanya.
“Biasanya orang mau punya banyak. Kamu mau cukup.”
Ucok nyeletuk, “Cukup versi dompet bocor.”
Ust Dika menatapku.
“Kamu kenapa pilih donor darah?”
Aku jujur.
“Karena kalau hidupku belum bisa nyelamatkan orang banyak, setidaknya tubuhku jangan pelit.”
Ucok menepuk meja.
“Bang, ini niat mulia atau niat pasrah?”
“Campur,” kataku. “Kayak kopi ini.”
Ust Dika tertawa kecil.
“Stabil itu bukan soal jumlah,” katanya, “tapi aliran. Kalau uangmu macet, jangan sampai hatimu ikut mampet.”
Ucok mengangguk sok paham.
“Oh… jadi meski miskin, jangan kikir.”
“Kurang lebih,” jawab Ust Dika.
Aku melipat kertas itu. Memasukannya ke dompet.
Bukan buat dipamerkan. Buat diingat.
Umur 25 nanti, aku mungkin belum kaya.
Masih bisa salah hitung.
Masih bisa panik.
Tapi semoga:
aku gak lari tiap ditanya uang,
gak pelit sama hidup,
dan masih punya darah yang mau mengalir.
Kalau nanti aku gagal jadi orang sukses,
setidaknya aku tidak gagal jadi manusia.
Dan jujur saja,
buatku itu sudah rencana yang cukup berani.