Mr. Nobody | Medan, 21 Desember 2025
“Bang,” kata Ucok sambil menatapku dari ujung kepala sampai kaki,
“aku mau nanya. Tapi jangan kau jawab pintar-pintar.”
Aku lagi ngikat tali sepatu lari di depan kedai kopi Semalam Suntuk. Jam masih lima pagi. Matahari belum bangun. Aku juga sebenarnya belum siap hidup.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kenapa kau sekarang rajin kali olahraga?”
Nada suaranya bukan kagum. Lebih ke heran.
Seperti orang melihat temannya tiba-tiba makan sayur.
“Rajin apanya,” kataku. “Aku cuma lari.”
Ucok mengangguk pelan.
“Nah itu. Kau. Lari.”
Seolah-olah aku baru mengaku punya usaha tambang.
“Dulu kau lari dari tanggung jawab,” lanjutnya.
“Sekarang lari pakai sepatu. Aku bingung mau bangga apa waspada.”
Aku mikir sebentar. “Ini lari pakai sepatu, Cok. Jadi kelihatan niat.”
Ucok menatapku lama. “Kau ini aneh.”
“Bisa jadi,” jawabku jujur.
“Tujuan larinya apa?”
Aku mengangkat bahu. “Aku juga gak tau.”
Ucok melotot. “Lah?”
“Tapi tiap habis lari,” lanjutku pelan,
“kepalaku agak sepi.”
Ucok diam. “Oh. Jadi ini lari buat ngusir pikiran.”
Aku mengangguk. “Iya. Pikiran aku bandel.”
Tahun ini memang banyak yang kaget melihatku.
Aku lari.
Aku latihan panahan.
Aku melukis.
Orang-orang bilang aku berubah.
Padahal aku cuma tidak diam lagi.
Ucok menunjuk tas kanvas di motorku.
“Terus itu. Melukis pula. Sejak kapan kau bisa?”
Aku mikir agak lama. “Aku gak tau apakah itu bisa.”
Ucok mendengus. “Lah, terus ngapain kau melukis?”
“Aku cuma tau,” kataku,
“waktu kupegang kuas, aku gak mikir apa-apa.”
Ucok terdiam. “Kosong?”
“Iya. Dan buat orang sepertiku, itu sudah mewah.”
Ucok tertawa kecil. “Berarti ini bukan bakat. Ini pelarian.”
“Jangan sebut pelarian,” kataku cepat.
“Ini… parkiran.”
“Parkiran?”
“Iya. Tempat aku berhenti sebentar sebelum lanjut ribut lagi.”
Ucok mengangguk. “Pelarian yang pakai istilah mahal.”
Aku tidak membantah.
Melukis itu memang tidak menyelesaikan masalah.
Masalah tetap ada.
Cuma suaranya jadi lebih pelan.
Aku pernah coba menyelesaikan stres dengan diam.
Kupikir diam itu dewasa.
Ternyata diam itu numpuk.
Dan aku gak pandai-pandai amat menumpuk.
Kami pindah ke lapangan kecil. Aku pasang target panahan.
Anak panah pertama meleset jauh.
Ucok tertawa. “Targetnya di sana, Bang. Hidupmu ke mana?”
Aku menarik napas. Lepas lagi. Masih melenceng.
“Panahan ini ngajarin aku satu hal,” kataku.
“Apa?”
“Kalau kepalaku ke mana-mana, tanganku ikut.”
Ucok nyengir. “Berarti selama ini hidupmu salah fokus.”
“Bisa jadi,” jawabku. “Aku sering buka banyak tab, tapi gak ada yang kelar.”
Ucok ketawa keras. “Itu hidup versi browser.”
Saat itulah Ust Dika datang.
Sandal jepit. Wajah tenang. Aura orang yang jarang ribut sama pikirannya sendiri.
“Kalian ini ribut dari subuh,” katanya.
“Ini bukan ribut,” jawab Ucok. “Ini investigasi.”
Ust Dika menatapku. “Kenapa?”
Aku jawab apa adanya. “Biar gak meledak.”
Ia mengangguk. “Meledak itu capek.”
Ucok nyeletuk, “Bang Dika, ini sehat atau tanda mau pensiun dari dunia?”
Ust Dika tersenyum kecil.
“Olahraga itu bukan menyelesaikan masalah,” katanya.
“Melukis juga bukan.”
Ucok cepat-cepat mengangguk. “Nah kan.”
“Tapi,” lanjut Ust Dika,
“dua-duanya bisa bikin masalah itu tidak menguasai kamu.”
Aku gak langsung paham.
Tapi kalimat itu enak didengar.
Aku lari bukan supaya hidupku rapi.
Aku lari supaya napasku balik.
Aku panahan bukan supaya jago.
Aku panahan supaya diam.
Aku melukis bukan supaya dipuji.
Aku melukis supaya bisa ada tanpa harus bicara.
“Bang,” kata Ucok pelan,
“jadi kau ini gak sembuh?”
Aku mikir. “Kayaknya belum.”
Ucok mengangguk. “Kau santai kali.”
“Aku juga gak ngecek,” tambahku jujur.
Ust Dika tersenyum. “Dia cuma bergerak.”
Ucok mengangguk pelan. “Daripada diam dan rusak.”
Aku duduk di pinggir lapangan. Keringat turun. Badan capek.
Tapi kepalaku—anehnya—tenang.
“Lucu ya,” kataku.
“Dulu aku kira hidup harus beres dulu baru jalan.”
Ucok menjawab, “Ternyata jalan dulu biar gak rebah.”
Ust Dika menimpali, “Kadang jalan itu bentuk doa.”
Aku gak sepenuhnya ngerti. Tapi aku suka kalimatnya.
Aku ingat teman-temanku yang kaget melihat lukisanku.
Mereka bilang, “kok bisa?”
Padahal jawabannya sederhana:
aku butuh tempat aman untuk kacau.
Melukis itu bukan prestasi.
Itu tempat aku berhenti sebentar.
Olahraga itu bukan disiplin.
Itu rem darurat.
Aku belum menyelesaikan masalah hidupku.
Aku cuma belajar satu hal tahun ini:
kalau aku diam terlalu lama, aku kenapa-kenapa.
Ucok berdiri, menepuk pundakku.
“Bang, aku bangga sama kau.”
“Kenapa?” tanyaku polos.
“Biasanya orang stres beli barang. Kau beli sepatu lari.”
Aku tertawa. “Lebih murah.”
Ust Dika menatap kami.
“Kadang Tuhan tidak menyuruh kita kuat,” katanya pelan.
“Cuma menyuruh kita bergerak sedikit.”
Kami diam. Matahari naik. Kedai mulai buka.
Aku mengikat tali sepatu lagi.
Mengambil busur.
Melirik kanvas kosong.
Aku belum jadi versi terbaik diriku.
Masih sering bingung.
Masih sering lari—kadang dari masalah.
Tapi setidaknya sekarang,
aku tidak diam.
Aku bergerak.
Aku tidak sembuh.
Aku tidak beres.
Aku cuma belajar satu hal tahun ini:
kalau aku diam terlalu lama, aku kenapa-kenapa.
Dan sejauh ini,
bergerak sedikit
cukup menyelamatkanku hari ini.