Mr. Nobody | Medan, 22 Desember 2025
Aku baru sadar hidupku agak ramai belakangan ini.
Bukan ramai yang ribut.
Ramai yang bikin bingung dikit.
Orang-orang baru, maksudku.
Mereka datang tanpa janji, tanpa undangan, dan tanpa nanya aku siap atau tidak.
Seperti tamu yang cuma mau duduk sebentar, lalu pulang.
“Jhon,” kata Ucok sambil narik kursi plastik di kedai kopi Semalam Suntuk,
“kau sadar gak sekarang kau sering disapa orang?”
Aku mikir. “Disapa siapa?”
“Semua,” katanya yakin. “Orang lari, orang kopi, orang yang dulu gak pernah nengok kau.”
Aku mengaduk kopi. “Oh.”
Ucok mencondongkan badan. “Oh itu artinya sadar?”
“Enggak,” kataku jujur. “Aku cuma baru kepikiran sekarang.”
Ucok menghela napas panjang. “Polos kali hidupmu ini.”
Dulu aku datang ke mana-mana dengan muka waspada.
Kalau disapa orang, aku mikir dulu:
dia mau apa?
Sekarang aku masih mikir, tapi gak sepanjang dulu.
“Dulu kau ke sini kayak orang nyicil masalah,” lanjut Ucok.
“Sekarang kayak orang cuma mau duduk.”
Aku tersenyum kecil. “Aku memang capek berdiri.”
Ucok mengangguk, seolah itu masuk akal secara ilmiah.
Pagi tadi aku lari keliling lapangan.
Ada bapak tua yang selalu duduk di bangku dekat pohon.
Biasanya kami cuma angguk-anggukan.
Hari ini dia bilang,
“Pagi.”
Aku balas,
“Pagi.”
Ucok menatapku. “Terus?”
“Ya sudah.”
Ucok terdiam. “Kau serius?”
“Iya. Kami saling pagi. Itu aja.”
Ucok geleng-geleng. “Hubungan sosialmu sederhana kali ya.”
Aku mikir. “Mungkin karena aku juga orangnya sederhana.”
“Bukan sederhana,” katanya. “Hemat emosi.”
Aku terima itu sebagai pujian.
“Jhon,” kata Ucok lagi,
“kau sadar gak, orang-orang baru ini gak pernah nanya hidupmu?”
Aku mengangguk. “Iya.”
“Mereka gak nanya kerjaanmu, masa lalumu, atau kenapa kau begini.”
“Iya.”
Ucok menatapku lama. “Itu aneh tau.”
Aku mengangkat bahu. “Mungkin karena aku juga gak nanya.”
Ucok terdiam. “Oh.”
Orang-orang baru ini memang aneh.
Mereka tidak ingin tahu segalanya.
Mereka cuma hadir sebentar, lalu jalan lagi.
Ada orang yang lari bareng, tapi gak pernah nanya aku ke mana setelah ini.
Ada ibu penjual kopi yang hafal pesananku, tapi gak pernah nanya kenapa aku sering melamun.
Ada orang di lapangan panahan yang cuma bilang, “tarik napas dulu,” lalu pergi.
“Jhon,” kata Ucok sambil ngunyah gorengan,
“ini orang-orang datang ke hidupmu tanpa ribut ya.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Ucok menatapku curiga. “Biasanya hidupmu ribut.”
“Iya,” jawabku. “Sekarang aku yang pelan.”
Ucok mengangguk pelan. “Berarti bukan mereka yang berubah.”
Aku tersenyum. “Mungkin.”
Saat itu Ust Dika datang.
Seperti biasa: tidak terburu-buru, tidak mencari perhatian.
“Kalian ngomongin apa?” tanyanya.
“Orang-orang baru,” jawab Ucok.
“Kawanku ini hidupnya kedatangan tamu, Bang.”
Ust Dika menatapku. “Kau merasa terganggu?”
Aku mikir sebentar. “Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena mereka gak lama,” jawabku jujur.
“Dan aku gak disuruh apa-apa.”
Ucok langsung nyeletuk,
“Bang Dika, kawanku ini cocok sama orang yang gak nuntut.”
Ust Dika tersenyum. “Kadang orang datang bukan buat menetap.”
Aku mengangguk. “Iya. Kayak singgah.”
Ucok menimpali,
“Kayak warung. Duduk, minum, pergi.”
Aku menatap Ucok. “Berarti aku warung?”
Ucok mikir. “Warung yang sekarang buka.”
Kami tertawa kecil.
Aku sadar, orang-orang baru ini tidak datang sebagai solusi.
Mereka tidak membuat hidupku rapi.
Mereka tidak memperbaiki apa-apa.
Tapi mereka duduk di dekatnya.
Suatu sore aku melukis di sudut lapangan.
Seorang anak kecil berdiri lama, lalu bilang,
“Warnanya bagus.”
Aku jawab,
“Oh.”
Ucok menatapku. “Kau gak nanya apa-apa?”
“Aku takut rusak suasananya,” jawabku polos.
Ucok tertawa. “Kau ini aneh, Jhon.”
“Iya,” kataku. “Tapi sekarang aku gak sendirian anehnya.”
Ucok terdiam sebentar. “Kau sadar gak, Jhon.”
“Apa?”
“Kau gak nyari siapa-siapa. Tapi hidupmu nambah orang.”
Aku mikir. “Mungkin karena aku gak nutup pintu.”
Ucok mengangguk pelan. “Biasanya orang nutup pintu karena ribut di dalam.”
Aku menyesap kopi terakhirku.
“Jhon,” kata Ucok sambil berdiri,
“kalau nanti orang-orang itu pergi, kau gimana?”
Aku mikir sebentar. Lalu jawab jujur,
“Ya sunyi lagi.”
Ucok mengernyit. “Terus?”
“Terus aku tau rasanya pernah rame.”
Ucok tersenyum kecil. “Itu jawaban cerdas.”
Aku mengangkat bahu. “Aku cuma jujur.”
Orang-orang baru datang tanpa janji.
Dan mungkin, pergi tanpa pamit.
Tapi hari ini,
mereka sempat duduk.
Dan buat orang sepertiku,
yang dulu ribut sendirian di kepala,
itu sudah lebih dari cukup.