Mr. Nobody | Medan, 23 Desember 2025
Ucok menatap lukisan di depanku dengan wajah seperti orang salah masuk pameran.
“Jhon,” katanya pelan,
“aku mau nanya. Tapi jangan marah.”
Aku masih memegang kuas. Cat di palet tinggal sisa-sisa yang warnanya sudah susah dibedakan.
“Nanya apa?” kataku.
“Ini lukisanmu… kok warnanya kayak cuaca mau hujan?”
Aku melirik kanvas. Abu-abu, coklat muda, hijau tua. Tidak ada warna yang niat menonjol.
“Memang,” jawabku polos.
Ucok menghela napas. “Padahal kau bisa pakai warna cerah.”
Aku mikir sebentar. “Bisa. Tapi capek.”
Ucok mengernyit. “Warna cerah aja capek?”
“Iya,” kataku jujur. “Mataku cepat lelah.”
Ucok menatapku lama. “Jhon, ini hidup apa lukisan?”
Aku mengangkat bahu. “Mirip-mirip.”
Tahun ini banyak orang nanya hal aneh ke aku.
Bukan soal kerja.
Bukan soal cinta.
Tapi soal warna.
“Mewakili 2025-mu warna apa?”
“Kenapa lukisanmu gelap?”
“Kenapa hidupmu kayak mendung?”
Aku selalu bingung jawabnya.
Bukan karena gak tau.
Tapi karena jawabannya sederhana dan sering dianggap salah.
“Aku gak milih warna,” kataku suatu kali ke Ucok.
“Aku pakai warna yang kepakai.”
Ucok langsung nyeletuk,
“Berarti hidupmu sekarang kayak sisa cat ya.”
Aku mengangguk. “Iya. Tapi cukup.”
Dulu aku suka warna cerah.
Merah.
Kuning.
Putih.
Warna-warna yang kelihatan niat.
Merah biar kelihatan berani.
Putih biar kelihatan bersih.
Kuning biar kelihatan hidup.
Masalahnya, warna cerah itu rewel.
Sedikit salah campur, rusak.
Sedikit kebanyakan, capek dilihat.
Sekarang aku lebih sering ambil abu-abu.
Ucok pernah protes,
“Abu-abu itu warna orang bingung.”
Aku jawab pelan,
“Abu-abu itu warna orang capek milih.”
Ucok terdiam. Itu jarang terjadi.
Suatu pagi di kedai kopi Semalam Suntuk, Ucok kembali nanya.
“Jhon, serius. Kalau kau disuruh milih satu warna buat 2025-mu, apa?”
Aku menatap kopi hitam di depanku. Warnanya gak hitam-hitam amat. Lebih ke coklat pekat.
“Ini,” kataku sambil menunjuk kopi.
Ucok tertawa. “Kopi itu bukan warna.”
“Ini cair,” kataku. “Tapi warnanya nyata.”
Ucok menggeleng. “Kau ini suka nyusahin orang.”
Aku gak membantah.
Saat itu Ust Dika datang. Duduk seperti biasa. Pesan kopi. Diam sebentar.
“Kalian bahas apa?” tanyanya.
“Warna hidup Jhon,” jawab Ucok.
“Katanya bukan warna cerah.”
Ust Dika menatap lukisanku.
“Warnanya tenang,” katanya.
Aku tersenyum kecil. “Itu tujuan utamanya.”
Ucok langsung masuk,
“Bang Dika, hidup ini bukannya harus berwarna?”
Ust Dika tersenyum.
“Hidup harus hidup dulu. Soal warna belakangan.”
Ucok melirikku. “Nah. Kau dengar itu?”
Aku mengangguk. “Iya. Belakangan.”
Belakangan ini aku memang capek dengan warna yang teriak.
Capek dengan hal-hal yang minta diperhatikan.
Capek dengan hidup yang harus kelihatan berhasil.
Warna cerah itu kayak orang yang selalu ingin didengar.
Aku sudah lama jadi orang itu.
Sekarang aku ingin jadi warna yang tidak dipuji, tapi dipakai.
“Jhon,” kata Ucok sambil menatap kanvas lagi,
“orang gak bakal nge-like lukisanmu.”
Aku mengangguk. “Gak apa-apa.”
“Kenapa santai kali kau?”
“Karena ini bukan buat orang,” jawabku.
“Ini buat aku.”
Ucok terdiam sebentar.
“Berarti kau egois.”
Aku mikir. “Mungkin. Tapi jujur.”
Aku pernah mencoba hidup dengan warna orang lain.
Pakai warna yang katanya bagus.
Pakai warna yang katanya masa depan.
Hasilnya hidupku kayak tembok yang dicat ulang terus.
Lama-lama lembab.
Retak dari dalam.
Sekarang aku pilih warna yang gak bikin ribut di kepala.
Abu-abu hangat.
Coklat tanah.
Hijau tua.
Warna yang kalau kotor sedikit, gak kelihatan rusak.
Ucok menatapku sambil nyengir,
“Berarti hidupmu sekarang gak instagramable.”
Aku mengangguk. “Syukurlah.”
Ucok tertawa. “Kau ini aneh, Jhon.”
“Iya,” kataku. “Tapi gak capek.”
Ust Dika menambahkan pelan,
“Tidak semua yang tenang itu mati.
Kadang itu tanda sudah berdamai.”
Aku gak sepenuhnya ngerti.
Tapi kalimat itu enak disimpan.
Aku melanjutkan melukis. Menambah sedikit hijau tua di sudut kanvas.
“Kenapa gak ditambah warna terang?” tanya Ucok lagi.
Aku menjawab sejujurnya,
“Takut rusak.”
Ucok mengangkat alis.
“Takut apa?”
“Takut capek lagi.”
Ucok terdiam. Lalu tertawa kecil.
“Itu jawaban paling dewasa yang pernah keluar dari mulutmu.”
Aku tersenyum malu.
Warna 2025-ku bukan warna yang bikin orang berhenti scrolling.
Bukan warna yang bikin orang bilang, “wah.”
Warnaku tahun ini warna yang bikin aku bisa duduk lama.
Melihat.
Bernapas.
Tidak ingin kabur.
Aku menaruh kuas. Menatap kanvas.
“Jhon,” kata Ucok pelan,
“kalau suatu hari hidupmu cerah lagi gimana?”
Aku mikir lama.
“Kalau cerahnya datang sendiri, aku terima,” kataku.
“Tapi kalau harus dipaksa, aku skip.”
Ucok mengangguk. “Itu adil.”
Aku sadar sesuatu yang sederhana:
warna cerah itu bukan salah.
Aku cuma tidak sedang membutuhkannya.
Tahun ini aku tidak ingin bersinar.
Aku ingin cukup terlihat oleh diriku sendiri.
Aku menyesap kopi terakhirku.
Pahit.
Hangat.
Tidak manis.
Persis seperti warnanya.
Warnaku tahun ini bukan warna cerah.
Bukan karena aku sedih.
Tapi karena aku tidak ingin lelah
hanya untuk terlihat hidup.
Dan sejauh ini,
warna-warna tenang
cukup membantuku bertahan.