Mr. Nobody | Medan, 24 Desember 2025
Aku tidak pernah pandai bikin resolusi.
Tiap awal tahun aku niat, tiap akhir tahun aku minta maaf ke diri sendiri.
Jadi tahun ini aku tidak bikin apa-apa.
Aku cuma hidup.
Dan entah kenapa, hidupku malah menulis sendiri tujuh kalimat di kepalaku.
Kalimat-kalimat itu muncul tanpa izin.
Seperti iklan yang tidak bisa di-skip.
Pagi itu aku lari lebih pendek dari biasanya. Nafasku habis. Kakiku protes. Kepalaku ribut.
Aku duduk di pinggir trotoar, keringat netes ke sepatu yang baru kubeli cicilan.
Aku bilang pelan ke diri sendiri,
“Aku capek, tapi belum mau menyerah.”
Bukan kalimat motivasi.
Lebih mirip pengakuan tersangka.
Ucok datang lima menit kemudian, sambil nyengir.
“Jhon,” katanya, “baru lima ratus meter kau sudah duduk?”
Aku menatapnya. “Aku capek.”
Ucok mengangguk. “Itu jelas. Tapi menyerah?”
Aku berdiri lagi. Pelan.
“Belum,” kataku. “Masih sayang sama sepatu.”
Ucok tertawa. “Alasan yang jujur.”
Siang harinya di kedai kopi Semalam Suntuk, Ucok kembali ribut. Kopi belum datang, mulutnya sudah panas.
“Kau ini hidupnya lambat kali, Jhon.”
Aku mengaduk kopi yang belum ada.
“Gak apa-apa kalau pelan.”
Ucok berhenti bicara. “Sejak kapan kau damai sama lambat?”
“Sejak sadar cepat juga gak ke mana-mana,” jawabku polos.
Ucok memandangku seperti aku baru saja menemukan teori baru.
“Berarti hidupmu sekarang versi loading ya.”
Aku mengangguk. “Yang penting gak error.”
Sore itu, seorang kenalan lama ketemu aku di parkiran.
Dia nanya dengan wajah penasaran bercampur kepo,
“Kok kau sekarang jarang cerita? Dulu kan cerewet.”
Aku mikir. Lidahku hampir menjawab panjang.
Tapi aku pilih pendek.
“Aku gak harus menjelaskan semuanya.”
Dia mengangguk.
Aneh. Dunia tidak runtuh.
Dia juga tidak tersinggung.
Ternyata menjelaskan itu pilihan, bukan kewajiban.
Malamnya, aku duduk sendiri di kamar. Lampu temaram. HP di tangan. Banyak notifikasi. Sedikit tenaga.
Aku rebahan, menatap langit-langit yang warnanya sudah tidak putih lagi.
Aku bilang dalam hati,
“Yang penting hari ini lewat.”
Tidak hebat.
Tidak romantis.
Tapi hari itu benar-benar lewat.
Besoknya, Ucok kembali dengan pertanyaan favorit umat manusia.
“Jhon, kau kenapa?”
Aku menatapnya. Pertanyaan itu terlalu luas.
Jawabannya terlalu banyak.
Tenagaku terlalu sedikit.
Jadi aku jawab jujur,
“Aku gak perlu terlihat baik-baik saja.”
Ucok mengangguk pelan.
“Oh,” katanya. “Kirain kau kuat.”
Aku nyengir. “Aku manusia.”
Ucok tertawa. “Itu upgrade.”
Suatu hari aku gagal.
Gagal bangun pagi.
Gagal lari.
Gagal produktif.
Aku duduk lama, menyalahkan diri sendiri dengan semangat nasionalisme.
Lalu aku sadar, aku masih hidup.
Dan itu cukup untuk belajar.
Aku bilang ke diri sendiri,
“Aku masih belajar.”
Belajar tidur cukup.
Belajar berhenti.
Belajar tidak memaki diri sendiri.
Ust Dika datang sore itu. Duduk. Diam. Minum kopi.
“Kau kenapa murung?” tanyanya.
Aku jawab apa adanya. “Aku ngerasa tertinggal.”
Ust Dika tersenyum kecil.
“Belajar itu memang kelihatan seperti tertinggal.”
Aku mengangguk. “Berarti aku masih di jalan.”
Hari terakhir minggu itu, aku menghentikan rencana yang kepanjangan.
Menutup laptop.
Menarik napas.
Aku bilang,
“Segini dulu juga cukup.”
Ucok menatapku heran.
“Biasanya kau maksa.”
“Iya,” jawabku. “Sekarang aku capek maksa.”
Ucok tersenyum. “Kau tau gak, itu kalimat dewasa.”
Aku mengangkat bahu. “Aku cuma jujur.”
Aku baru sadar, tujuh kalimat itu tidak pernah kutulis di buku.
Tidak kugarisbawahi.
Tidak kupajang.
Mereka muncul sendiri, di waktu yang tepat, dengan nada yang tidak meyakinkan tapi jujur.
Ucok menatapku sambil ngopi.
“Kalau kau disuruh milih satu kalimat dari tujuh itu, mana?”
Aku mikir lama. Terlalu lama.
Akhirnya aku jawab,
“Semua.”
Ucok tertawa. “Rakusan.”
“Enggak,” kataku. “Aku lagi hidup.”
Tahun ini aku tidak ingin jadi versi terbaik.
Aku ingin jadi versi yang masih mau bangun.
Dan tujuh kalimat itu—
tidak membuatku hebat,
tidak membuatku cepat,
tapi membuatku berjalan tanpa menipu diri sendiri.
Kalau itu bukan kemajuan,
setidaknya itu jujur.
Dan untuk 2025,
kejujuran itu sudah kerja keras.