(base on the true story)
Mr. Nobody | Medan, 25 Desember 2025
Agustus itu bulan yang menurutku paling sopan.
Datangnya rapi.
Benderanya banyak.
Diskonnya jujur.
Dan waktu itu, hidupku juga kelihatan begitu.
“Jhon,” kata Ucok sambil duduk di kedai kopi Semalam Suntuk,
“hidupmu sekarang kok kayak brosur KPR.”
Aku menutup laptop. “Kenapa?”
“Isinya janji semua,” katanya. “Dan fotonya terlalu terang.”
Aku tertawa.
Aku memang lagi terang.
Proyek CBT hampir selesai.
Rencana nikah sudah masuk tahap debat warna.
Uang ada.
Kepala tenang.
Aku bahkan sempat mikir,
oh, ternyata hidup bisa juga gak ribet.
Ucok melirik layar laptopku.
“Ini aplikasi ujian itu ya?”
“Iya.”
“Kalau ini jadi, kau aman?”
“Aman,” jawabku cepat.
Ucok mengangguk sambil minum kopi.
“Biasanya orang yang jawab cepat itu belum dihantam.”
Aku menganggap itu candaan.
Minggu pertama Agustus aku sibuk seperti orang penting.
Presentasi.
Telepon.
Lembur.
Aku menjelaskan alur aplikasi dengan penuh percaya diri.
Padahal jujur saja, aku hafal karena sering diulang.
Di sela itu, aku juga bolak balik urusan nikah.
Uang keluar satu satu.
Aku catat rapi.
Setiap bayar sesuatu, aku selalu bilang,
“Sekali ini saja.”
Entah kenapa kalimat itu sering kupakai bulan itu.
Ucok suatu hari menatapku lama.
“Jhon, kau tau gak persamaan proyek besar dan nikah?”
Aku menggeleng.
“Dua duanya bikin orang sok kuat.”
Aku tertawa.
Aku memang sok kuat waktu itu.
Di minggu yang sama, aku mulai batuk.
Awalnya kecil.
Kayak orang mau klarifikasi.
Ucok mendengarnya.
“Itu batuk atau intro lagu?”
“Masuk angin,” jawabku.
Ucok mengangguk.
“Masuk angin kok betah.”
Aku tertawa. Batuk ikut keluar.
Aku tidak ke dokter.
Aku pikir nanti juga reda.
Aplikasi CBT mulai diuji.
Ada bagian yang tidak sesuai.
Ada yang perlu revisi.
“Aneh ya,” kataku santai.
Ucok menoleh.
“Jhon, aneh itu bahasa orang yang belum siap kecewa.”
Aku masih tertawa.
Balasan dari instansi mulai lama.
Kadang dibaca.
Jarang dibalas.
Ucok melihat ponselku.
“Dia lihat tapi diam.”
“Iya.”
“Berarti jawabannya bukan iya.”
Aku mengangguk.
Tapi tetap menunggu.
Di rumah, suasana juga mulai berubah.
Tidak ribut.
Tidak marah.
Cuma lebih banyak jeda.
Aku tidak bertanya.
Aku pikir semua orang lagi capek.
Sampai suatu malam, aku membaca sesuatu yang seharusnya bukan untukku.
Bukan karena curiga.
Bukan karena sengaja mencari.
Datang sendiri.
Pesan yang bukan dariku.
Panggilan sayang yang bukan namaku.
Bukan satu.
Ada dua.
Aku duduk lama di tepi kasur.
Tidak kaget.
Lebih ke memastikan.
Ternyata benar.
Perempuan yang selama ini kucintai tidak mencintaiku sendirian.
Ia berpacaran dengan dua pria lain,
sementara aku sibuk mengatur masa depan kami.
Aku tidak berteriak.
Aku juga tidak langsung marah.
Aku cuma duduk dan berpikir,
pantas saja aku sering merasa ramai sendirian.
Ucok tahu dari caraku diam.
“Jhon,” katanya pelan,
“kau kenapa?”
“Aku gak sendirian,” jawabku.
Ucok mengernyit.
“Maksudmu?”
“Aku salah hitung,” kataku.
Ucok diam lama.
Lalu berkata,
“Agustus rajin kali ya.”
“Rajin apa?”
“Rajin ngambil semua.”
Di minggu yang sama, proyek CBT itu resmi tidak dipakai.
Bukan karena gagal total.
Tapi karena tidak sesuai kebutuhan.
Aku membaca pesannya dua kali.
Kalau sekali rasanya terlalu cepat.
Uang nikah yang sudah keluar tidak kembali.
Sebagian sudah habis.
Sebagian tidak bisa diminta.
Ucok menghitung di kertas.
“Ini bukan minus,” katanya.
“Ini kosong.”
Batukku makin sering.
Napas makin pendek.
Aku akhirnya ke fasilitas kesehatan.
Dokter memeriksa.
Bicara singkat.
Paru paruku bermasalah.
Pengobatan harus dimulai.
Ucok melihat hasilnya.
“Lengkap,” katanya.
“Kerja, cinta, badan. Semua disikat.”
Aku tertawa kecil.
Tapi batuknya tidak ikut tertawa.
Malam itu Ust Dika datang.
Duduk.
Melihat aku lama.
“Kau sudah makan?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Minum obat?”
“Sudah.”
“Ya sudah.”
Tidak ada nasihat.
Tidak ada ceramah.
Kami bertiga duduk tanpa banyak kata.
Agustus berjalan sampai akhir.
Kalender berganti.
Proyek selesai tapi tidak dipakai.
Rencana nikah batal.
Uang habis.
Pengobatan jalan.
Suatu sore, aku kembali ke kedai kopi Semalam Suntuk.
Bukan buat kerja.
Bukan buat nunggu siapa siapa.
Aku lapar.
Itu hal pertama yang kurasakan jelas hari itu.
“Jhon,” kata Ucok dari balik meja,
“kau mau pesan apa?”
Aku melihat menu lama yang sudah hafal di luar kepala.
“Nasi goreng,” kataku.
“Yang biasa.”
Ucok mengangkat alis.
“Biasanya kau pesan kopi dulu.”
“Iya,” jawabku.
“Hari ini pengen makan.”
Ucok tidak bertanya lagi.
Waktu nasi goreng datang, aku menatapnya sebentar.
Telurnya agak gosong.
Porsinya tidak penuh.
Aku mulai makan pelan.
Tidak buru buru.
Tidak sambil buka ponsel.
Sendok pertama masuk.
Lalu kedua.
Batukku masih ada.
Tapi tidak mengganggu.
Ucok memperhatikanku.
“Kau kelihatan beda.”
Aku mengangkat bahu.
“Laper.”
Ucok mengangguk.
“Bagus.”
Kami makan dalam diam.
Aku menghabiskan nasi goreng itu sampai piringnya bersih.
Bukan karena enak.
Tapi karena bisa.
Sebelum pulang, aku melihat kalender kecil di dinding kedai.
Masih ada bendera kecil di tanggal tujuh belas.
Aku tidak menurunkannya.
Aku bayar makananku.
Lalu pulang.
Agustus lewat seperti bulan lain.
Bedanya, malam itu
aku pulang dengan perut terisi.
Agustus 2025 bukan berisik,
namun tempat aku menurunkan keyakinan bahwa...
manusia hanya bisa berencana
dan bisa jadi Tuhan cemburu
dengan apa yang kita yakinkan dengan rencana kita.