Mr. Nobody | Jakarta Pusat, 26 Desember 2025
Banyak hal yang aku beli, namun kali ini yang kuangkat adalah apa yang buatku berkesan di tahun ini.
Aku buat jadi beberapa bagian plot cerita.
Rezeki itu selalu datang tak terduga, itulah yang membuatku berpikirr...
'Aku yang dulu bukanlah yang sekarang!?'
Kalau rekening bank bisa ngomong, tahun 2025 ini dia mungkin sudah lapor polisi.
Ucok yang pertama kali curiga.
“Jhon,” katanya sambil berdiri di tengah kamarku, tangan di pinggang,
“kau ini mau pindahan, mau buka gudang, atau mau ngilang dari radar keluarga?”
Aku lihat sekeliling kamar.
Ada busur panahan bersandar ke tembok.
Sepatu lari dua pasang.
Cat, kuas, kanvas numpuk kayak mau ujian seni rupa.
Dan satu tiket pesawat yang sengaja kutaruh di meja, biar kelihatan mahal.
“Tenang,” kataku. “Semua ini ada ceritanya.”
Ucok ketawa kasar.
“Semua orang yang bangkrut selalu bilang gitu.”
Panahan: Atlet Tua yang Merasa Masih Muda
Aku beli alat panahan karena aku pernah jadi atlet.
Bukan atlet abal-abal.
Atlet beneran.
Pernah juara.
Pernah berdiri di podium dengan piala yang lebih besar dari kepalaku waktu itu.
Ucok dengar ceritanya sambil manggut-manggut.
“Dulu ya,” katanya, “sekarang itu kata yang bahaya.”
Hari pertama aku latihan lagi, Ucok ikut nonton.
Panah pertama meleset jauh.
Ucok refleks teriak,
“WOI… ITU TARGETNYA DI DEPAN, BUKAN DI MASA LALU.”
Aku tarik napas.
“Tenang. Ini pemanasan.”
Panah kedua nyasar lagi.
Ucok tepuk tangan.
“Bagus. Ini bukan latihan. Ini ritual melepas ego.”
Aku mencoba fokus.
Tarik busur.
Bidik.
Panah ketiga nancap… di rumput.
Ucok pegang kepala.
“Jhon, sumpah, panahmu kayak hidupmu. Niat ada, eksekusi kagak.”
Aku menoleh.
“Setidaknya aku masih narik busur.”
Ucok mengangguk.
“Benar. Banyak orang bahkan gak sanggup berdiri.”
Dan anehnya, itu bikin aku senyum.
Lari: Juara yang Sekarang Kalah Sama Emak-Emak
Seminggu kemudian aku beli sepatu lari.
Ucok baca deskripsinya dengan serius.
“Ringan, responsif, breathable,” katanya.
“Kau beli sepatu atau pasangan ideal?”
Aku mulai lari pagi.
Pelan.
Pendek.
Kadang berhenti bukan karena capek, tapi karena mikir.
Ucok ikut sekali.
Dan itu cukup.
Baru seratus meter dia berhenti, tangan di lutut.
“Jhon,” katanya ngos-ngosan,
“kau yakin dulu juara?”
“Yakin.”
“Sekolah luar biasa?”
Aku ketawa.
Kami disalip ibu-ibu bawa tas belanja.
Ucok menunjuk mereka.
“Lihat. Mereka lari dari promo, kau lari dari hidup.”
Aku jawab santai.
“Yang penting sama-sama bergerak.”
Ucok diam.
Lalu ketawa.
“Kau ini ngeselin,” katanya.
“Omonganmu masuk akal tapi mukamu bikin orang mau marah.”
Melukis: Marah Tapi Estetik
Melukis itu cerita lain.
Aku dulu jago sketsa.
Pensil.
Kertas.
Garis rapi.
Sekarang aku pakai kuas.
Dan cat.
Ucok lihat lukisanku lama.
“Ini lukisan apa?” tanyanya.
“Abstrak.”
Ucok mendekat.
“Abstrak itu bahasa orang gak mau disalahkan ya?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Ucok ketawa keras.
“Kau ini hebat,” katanya.
“Marah aja bisa estetik.”
Aku melukis bukan buat pamer.
Aku melukis karena kanvas gak bisa debat.
Kalau orang debat, aku capek.
Kalau kanvas, paling dia nerima.
Ust Dika suatu sore datang dan lihat lukisan itu.
“Bagus,” katanya sederhana.
Ucok nyela,
“Bang, ini lukisan orang lagi bingung hidup.”
Ust Dika senyum.
“Bingung tapi masih berkarya. Itu sehat.”
Ucok mendengus.
“Kalau sehat kenapa dompetnya kurus?”
Tiket Pesawat: Alasan Paling Jujur Sedunia
Tiket ke Turki adalah puncaknya.
Ucok hampir jatuh dari kursi.
“Jhon,” katanya serius,
“kau ini mau liburan, mau hijrah, atau mau kabur dari utang?”
Aku lihat tiket di ponsel.
“Pengen aja ke sana.”
Ucok terdiam.
Lalu ketawa paling keras hari itu.
“ANJING,” katanya.
“ITU ALASAN PALING JUJUR YANG PERNAH KUDENGAR.”
Ust Dika ikut ketawa kecil.
“Kadang,” katanya,
“manusia gak butuh alasan panjang.”
Ucok nyela cepat.
“Bang, dia ini butuh alasan ke ibunya.”
Malam Paling Ramai Tanpa Masalah
Suatu malam kami bertiga duduk di kedai kopi.
Ucok menghitung semua barang yang kubeli.
“Panahan. Lari. Lukis. Tiket,” katanya.
“Kau sadar gak semua ini gak bikin hidupmu beres?”
Aku mengangguk.
“Sadar.”
“Terus kenapa kau beli?”
Aku jawab jujur, tanpa mikir lama.
“Karena aku bisa.”
Ucok terdiam.
Ust Dika senyum.
“Kadang,” kata Ust Dika,
“itu jawaban paling sehat.”
Ucok menunjuk aku.
“Bang, dia ini sehat tapi kelakuannya mencurigakan.”
Penutup: Ketawa Tanpa Izin Hidup
Aku pesan nasi goreng.
Porsi besar.
Ucok melotot.
“Wah. Ini tanda orang sudah ikhlas.”
Aku makan cepat.
Ucok ketawa.
Ust Dika geleng-geleng.
“Besok ngapain?” tanya Ucok.
“Pagi lari,” kataku.
“Sore panahan.”
“Lukis?”
“Kalau capek.”
“Turki?”
“Nanti.”
Ucok berdiri.
“Bagus. Jangan keburu sembuh.”
Aku ketawa keras.
Ketawa yang lama.
Yang bikin meja sebelah nengok.
Aku naik motor sambil senyum sendiri.
Helm agak longgar.
Perut kenyang.
Kepala kosong.
Hidupku belum beres.
Masalah masih ada.
Uang juga belum pintar.
Tapi malam itu,
aku ketawa di jalan.
Dan itu cukup buat hari ini.