Day 1
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Rumah yang Sempat Kukira Kos-Kosan
Medan, 22 Februari 2026 | Yudha Sansena
Waktu kuliah dulu, aku punya satu rumah. Rumah itu gak punya alamat. Gak punya pagar. Gak punya sertifikat. Tapi kalau gak ada, rasanya kayak kehilangan KTP, ATM, dan harga diri sekaligus.
Namanya Sartika.
Tenang dulu.
Ini bukan cerita dua orang yang diem-diem saling cinta lalu nikah sederhana dan hidup bahagia. Ini juga bukan cerita CEO yang sedang menyamar mencari cinta seperti dracin-dracin di layar facebook. Ini cerita tentang orang yang salah paham. Salah paham tentang cinta. Salah paham tentang rumah.
Dan yang paling parah…
salah paham tentang dirinya sendiri.
Rumah itu bukan cuma dia.
Rumah itu adalah meja plastik di warung kopi Semalam Suntuk. Meja yang kalau disentuh dikit langsung goyang seperti iman habis diskon. Kopi pahit. Empat kursi.
Kalau satu kosong, rasanya kayak grup WhatsApp yang adminnya keluar dan gak ada yang berani ambil alih.
Aku., Sartika., Ucok., dan satu syekh dari pecinaan sunda kami yaitu Ust Dika.
Kami bukan circle yang aesthetic. Kami circle yang kalau difoto, mungkin orang tua kami bakal bilang “anak-anak ini kok gak ada yang normal?”
Sartika itu perempuan. Tapi kalau debat, dia lebih mirip jaksa yang baru nemu bukti tambahan. Bisa dikatakan, dia lebih mirip Ucok. Bedanya lebih pinter, kalau berargumen dibarengin skill pasif andalannya: Phsycal Attack. Aku sering menyebutnya gladiator.
“Argumen kau gak masuk akal, Jhon.” katanya.
“Bukan gak masuk akal. Itu perspektif alternatif.” Jawabku.
“Alternatif kepalamu.”
Lalu disambut dengan skill satunya: Cubit.
Bukan cubitan manis.
Namun cubitan yang bikin dosa-dosa masa lalu terlintas.
Aku balas pukul bahunya pelan, namun presisi. Sesekali pernah kulayangkan Upper cut kalau ini anak lagi resek.
Ucok pernah bilang,
“Kalian ini kalau nikah nanti bukan resepsi. Tapi timbang badan dulu sebelum masuk ring.”
Sartika jawab,
“Kau jadi wasitnya.”
Ucok terdiam.
Karena dia tahu kalau masuk terlalu jauh, dia yang jadi samsak.
Yang aneh, Sartika ngerti aku sebelum aku ngerti diriku sendiri. Kalau aku diam, dia tahu aku lagi mikir. Kalau aku sok yakin, dia tahu aku lagi takut. Kalau aku banyak ngomong, dia tahu aku lagi nutupin luka. Dan itu bikin nyaman. Bukan karena romantis. Tapi karena aku gak perlu jadi versi paling keren dari diriku sendiri.
Kami sering belajar bareng, diskusi ilmiah, pergi event bareng, bahkan kalau beda kelompok projek kursi kami gak begitu berjauhan. Ucok pernah bilang: "Kelen berdua kek orang gila di kampus, ribut, adu dengkul, kek satu hari itu gak bisa kelen damai."
"Apa itu damai?" celetuk si perempuan yang lengannya bajunya sudah sedikit naik siap menerkam gigi grahamnya Ucok.
Lalu datang fase klasik mahasiswa:
Cinta.
Dimana kami saling mencintai... tapi dengan orang lain.
Sartika didekati kakak tingkat di kampus.
Orangnya rapi. Visioner. Wangi.
Kalau ngomong tentang masa depan kayak sudah pesan katering.
Yah.. Dia ketemu cowok yang keknya pimpinan organisasi gitu.
“Dia serius orangnya,” kata Sartika.
“Bagus dong.” kataku
“Tapi dia gak qunut.”
Aku berhenti minum. Memandangnya agak lama.
“Kalian baru kenal sudah bahas pebandingan mazhab?”
Dia mukul lenganku tanpa merasa ada akhlak terlintas di kesadaran berpikirnya.
Ucok tepuk meja.
“Ini bukan pacaran. Ini diskusi fiqh dengan potensi konflik horizontal.”
Si kawan makin absurd. Herannya aku nyaman situasi seperti ini.
Sementara itu aku juga sibuk.
Akhir-akhir ini ada adik kelas mendekatiku: Rini.
Cantiknya satu angkatan sepakat.
Kalau senyum, bisa bikin dosen lupa absensi dan mahasiswa lupa realita cicilan paylater.
Dia sering minta bantu coding denganku.
“Bang, ajarin ya…”
Dan aku selalu bilang iya.
Karena aku tipe orang yang kalau merasa dibutuhkan, langsung merasa dicintai.
Dan itu penyakit.
Aku bukan jatuh cinta.
Aku cuma senang merasa penting.
Itu lebih memalukan.
Sartika suatu sore bilang,
“Kau bahagia?”
“Iya lah.”
“Yakin?”
“Kau ini kenapa sih?” tanyaku
“Kau itu kalau merasa berguna, langsung lupa jati diri soalnya.” jawabnya.
Ucok masuk seperti biasa.
“Jhon ini kalau jadi charger umum, rela ditinggal di colokan.”
Aku ketawa.
Ucok lanjut,
“Kau lebih parah. Kau rela jadi WiFi gratis. Tanpa password. Tanpa batas. Tanpa sadar kalau yang konek bukan cuma satu.”
Aku berhenti ketawa.
Karena itu bukan cuma lucu.
Itu benar.
Pelan-pelan kami jarang nongkrong.
Warung Semalam Suntuk jadi aneh.
Biasanya ribut.
Sekarang sunyi.
Dan aku sadar sesuatu yang bikin malu.
Aku lebih memilih jadi solusi untuk orang yang belum tentu memilihku…
daripada duduk dengan orang yang sudah pasti menerimaku.
Itu ego.
Bukan cinta.
Suatu malam Ramadhan,
Ucok duduk sama Ust Dika.
“Bang,” katanya,
“kenapa orang kalau jatuh cinta jadi bego?”
Ust Dika senyum.
“Karena dia takut sendirian.”
Ucok terdiam.
Beliau lanjut pelan,
“Dan Allah menjadikan rumah sebagai tempat tinggal.”
“Rumah itu tempat kembali. Bukan tempat pembuktian diri.”
Kalimat itu entah kenapa sampai ke aku.
Karena kalau jujur…
aku gak mencari cinta. Aku mencari validasi. Rini makin banyak yang dekatin. Insecure-ku naik level dari tingkat kelurahan ke tingkat Kabupaten/Kota.
Aku tetap bantu.
Tetap hadir.
Tetap jadi solusi.
Tapi makin sering merasa aku cuma opsi.
Dan lucunya…
aku tetap bertahan.
Karena aku takut kehilangan rasa dibutuhkan.
Satu malam aku duduk di kosan.
Sunyi.
Laptop nyala.
Chat sepi.
Ego masih hidup.
Dan untuk pertama kalinya aku jujur ke diri sendiri.
Aku bukan kangen Rini.
Aku kangen rumah.
Beberapa hari kemudian Sartika muncul.
“Kita goblok ya.”
“Yang mana dulu? Banyak soalnya”
“Kirain cinta pertama itu rumah. Ternyata cuma kos-kosan. Bayarnya mahal, kontraknya pendek, dan pemiliknya galak.”Jawabnya.
Aku ketawa.
Tapi kali ini aku gak bercanda.
“Iya. Rumah itu bukan yang bikin kita deg-degan. Rumah itu yang bikin kita tenang.”
Dia lihat aku lama.
“Balik yuk.”
Malam itu kami kembali ke Semalam Suntuk.
Ucok berdiri dramatis.
“Alhamdulillah. Dua orang hilang sudah kembali ke habitat aslinya.”
Kami duduk.
Aku sengaja mulai ribut.
“Menurutku mie instan tetap lebih enak jam dua pagi.”
Sartika jawab,
“Itu bukan rasa. Itu kesepian.”
Ucok tepuk meja.
“Nah! Itu baru diskusi.”
Kami ketawa.
Lalu Ucok lihat aku.
“Jhon.”
“Apa?”
“Kau sadar gak? Kau itu bukan jatuh cinta. Kau cuma takut gak dianggap.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya…
aku gak balas.
Ust Dika menatap kami.
“Ramadhan itu bulan pulang,” katanya pelan.
“Dan Dia menyatukan hati mereka.”
“Kalian ini keras. Tapi tenang bersama. Itu bukan kebetulan.”
Sunyi lagi.
Dan tiba-tiba aku sadar sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada ditinggal.
Rumah tidak pernah pindah.
Yang pindah itu aku.
Aku yang terlalu sibuk mencari orang yang membuatku merasa penting…
sampai lupa duduk dengan orang yang membuatku merasa cukup.
Aku lihat mereka bertiga.
Ucok yang kasar tapi selalu ada.
Sartika yang brutal tapi paham aku.
Ust Dika yang tenang tapi tidak pernah memaksa.
Aku tersenyum kecil.
“Kita jangan ke mana-mana lagi ya.”
Ucok langsung jawab,
“Kita gak pernah ke mana-mana. Cuma kau yang lari.”
Kami ketawa.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku sadar satu hal yang bikin aku takut sekaligus tenang:
Suatu hari nanti akan ada seseorang
yang bukan cuma singgah,
bukan cuma kos,
tapi benar-benar tinggal.
Dan saat itu terjadi…
aku harus sudah selesai dengan diriku sendiri.
Karena rumah yang belum berdamai dengan dirinya…
gak bisa jadi tempat pulang untuk orang lain.
Dan mungkin…
itu sebabnya
cerita ini belum selesai.
Karena aku belum selesai.