Day 2
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
IZIN MAKAN SAHUR!
Medan, 23 Februari 2026 | Yudha Sansena
Jam 03.58.
Alarmku bunyi seperti orang yang terlalu percaya diri tentang masa depan.
Nada deringnya bukan adzan. Bukan musik religi. Tapi suara default yang bunyinya seperti peringatan hidup belum selesai.
Aku membuka mata pelan.
Kipas angin di atas kepalaku berputar setengah hati. Dinding kos retak halus seperti peta negara yang gagal sepakat. Bau minyak kayu putih bercampur kopi semalam masih menggantung di udara. Ramadhan selalu membuat malam terasa lebih tipis.
Di luar, gang masih sunyi. Tapi sunyi yang siap ribut sebentar lagi.
HP bergetar.
Ucok.
“Aku bangun.”
Aku belum sempat duduk.
“Bagus.”
“Aku belum. Tapi niatku sudah bangun.”
Aku menatap langit-langit.
“Kalau niatmu bisa kenyang, kau gak perlu sahur.”
Sebelum Ucok sempat balas, pintu kosku diketuk keras.
Tok. Tok. Tok.
Bukan ketukan sopan. Ketukan orang yang tahu kau pasti bangun.
Aku buka.
Sartika berdiri dengan hoodie kebesaran dan rambut yang seperti habis debat dengan bantal.
“Gas.”
“Gas apaan?”
“Warung. Aku lapar.”
“Jam segini?”
“Kalau bukan jam segini, namanya makan biasa. Kita ini eksklusif, sahur kocak”
Di belakangnya muncul Ucok. Sandal kiri hitam. Sandal kanan biru.
Aku menunjuk.
“Fashion?”
“Ini simbol hidup yang tidak seimbang.”
Memang agak laen si kawan referensi fashion.
Udara dini hari menusuk sedikit ketika kami berjalan ke ujung gang. Lampu jalan redup. Langit gelap dengan semburat abu-abu. Beberapa rumah sudah menyala. Beberapa masih gelap seperti menolak iman.
Warung ujung gang terlihat seperti markas kecil penyelamat sementara. Lampu neon berkedip. Uap nasi mengepul. Sendok beradu piring. Suara minyak panas seperti bisikan dunia yang belum sepenuhnya bangun. Dan di meja paling ujung, Ust Dika sudah duduk. Tenang. Kopinya sudah setengah. Wajahnya tidak panik. Seolah beliau memang lahir untuk waktu sahur.
Ucok duduk dan langsung buka rapat.
“Bang, saya mau tanya serius.”
“Silakan.”
“Kenapa namanya sahur?”
“Karena dilakukan waktu sahar.”
Ucok angkat tangan seperti mahasiswa yang niatnya bikin ribut.
“Kenapa gak diganti aja, Bang? Biar kekinian. Misalnya CPDK.”
Sartika berhenti nyuap.
“CPDK apaan?”
“Consuming Pre-Dawn Kinetik.”
Aku hampir tersedak.
Ucok lanjut.
“Atau YOLO. You Only Lapar Once.”
Sartika ngakak.
“YOLO itu bukan gitu, goblok.”
Ucok santai.
“Atau Night Fuel Reload. Biar anak startup mau bangun.”
Aku tambah nasi.
“Kalau kau jadi menteri agama, puasa kita rebranding semua.” Kata Sartika ngeledek sambil ngunyah sambal teri.
Ust Dika tersenyum tipis.
“Kalian ini generasi yang butuh istilah keren supaya mau melakukan hal baik.”
Sunyi setengah detik.
“Padahal yang sederhana justru sering paling bermakna.”
Ucok tambah nasi lagi.
“Berarti kalau saya tambah dua kali, maknanya dobel?”
“Kalau niatnya makan, ya tetap makan.”
Warung kecil itu jadi absurd.
Kami makan seperti orang yang takut dunia tutup jam 05.15.
Ucok cek jam.
“Imsak jam berapa?”
“05.00.”
Kami langsung suap cepat.
Sartika ngomel.
“Ini bukan sahur. Ini sprint.”
Ucok angkat sendok.
“Ini bukan sprint. Ini latihan hidup kalau nanti sendirian.”
Kami ketawa.
Aku juga.
Lalu aku ingat sesuatu.
“Tahun lalu, di kosku ada satu orang yang tiap sahur ribut paling keras.”
Ucok masih ngunyah.
“Terus?”
“Sekarang kamarnya kosong.”
Tidak ada punchline.
Lampu neon tetap berkedip.
Tapi suasana berubah.
Sartika pelan menaruh sendok.
“Lucu ya,” katanya pelan, “kita panik karena takut gak sempat makan.”
Ucok kali ini tidak keras.
“Padahal ada orang yang gak sempat bangun.”
Sunyi.
Ust Dika menyeruput kopi.
“Sahur itu bukan sekadar makan,” katanya pelan.
“Itu izin.”
Ucok menoleh.
“Izin?”
“Izin untuk hidup satu hari lagi.”
Beliau lanjut,
“Dan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya.”
Kami diam.
Warung kecil itu terasa sempit.
Aku baru sadar sesuatu yang lebih absurd dari bangun jam empat pagi untuk makan supaya kuat tidak makan.
Kita selalu menganggap sahur itu jadwal.
Padahal itu pinjaman.
Kita selalu bilang, “Besok sahur lagi ya.”
Seolah-olah kita yang pegang kalender.
Adzan subuh berkumandang.
Tepat waktu.
Seperti biasa.
Seperti tidak pernah peduli siapa yang siap dan siapa yang tidak.
Selesai shalat, kami duduk lagi.
Ucok akhirnya buka suara.
“Besok CPDK lagi ya.”
Sartika nyikut dia.
Aku senyum tipis.
“Kalau kita masih ada.”
Sunyi.
Aku lihat meja plastik itu.
Meja goyang.
Empat kursi.
Empat orang yang merasa masih punya banyak waktu.
Bayangan absurd muncul.
Suatu hari nanti,
warung ini tetap buka.
Lampu neon tetap berkedip.
Ucok tetap ribut soal branding sahur.
Sartika tetap debat tanpa ampun.
Ust Dika tetap tenang dengan kopi.
Tapi satu kursi kosong.
Dan yang lebih absurd lagi…
dunia tetap jalan seperti biasa.
Kita selalu takut imsak.
Takut telat makan.
Takut batal.
Tapi jarang takut
kalau ternyata ini sahur terakhir.
Dan mungkin yang paling ironis bukanlah lapar.
Yang paling ironis adalah
kita selalu set alarm
untuk bangun makan.
Tapi tidak pernah siap
kalau suatu hari
alarm itu berbunyi…
dan bukan untuk kita.