Day 3
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Bubur yang Diaduk, Ego yang Tidak, dan Rumah yang Hampir Hilang
Medan, 24 Februari 2026 | Yudha Sansena
Ramadhan malam itu, warung Semalam Suntuk penuh seperti biasa.
Lampunya kuning redup seperti niat diet di awal bulan. Kipas anginnya bunyi krek-krek seperti lagi berdzikir setengah sadar. Meja plastik kami goyang sedikit—kalau ditekan, dia ikut refleksi.
Aku datang terakhir.
Bukan karena sibuk. Tapi karena pengalaman mengajarkan: yang datang terakhir paling kecil kemungkinan disuruh pesan duluan.
Ucok sudah duduk dengan mangkuk bubur ayam. Dan dia mengaduknya seperti sedang menyelesaikan konflik keluarga.
“Woi!” Sartika menepuk meja sambil duduk. “Kenapa buburnya kau hancurkan begitu?!”
Ucok berhenti setengah aduk.
“Hancur dari mana? Ini namanya integrasi. Semua bahan harus setara.”
Sartika menggeleng. “Bubur itu tidak diaduk. Itu aturan tak tertulis.”
Ucok menunjuk mangkuknya.
“Yang tidak aduk itu denial. Dia tahu ayam dan bubur sudah satu takdir, tapi pura-pura terpisah. Sama kayak orang jatuh cinta.”
Aku menyendok bubur pelan.
“Secara psikologi,” kataku santai, “yang tidak aduk biasanya takut kehilangan kontrol tekstur.”
Sartika langsung menunjukku.
“Nah! Dengar itu. Itu analisa.”
Ucok mendengus.
“Kau belajar psikologi di mana?”
“Di hidup,” jawabku.
Ucok bersandar.
“Yang aduk itu realistis. Yang tidak aduk itu perfeksionis. Sama kayak Romi.”
Nama itu jatuh di meja seperti sendok yang terlalu keras.
Sartika tersenyum.
“Kenapa tiba-tiba ke Romi?”
Ucok menyeringai.
“Karena kau dari tadi bersinar kayak neon warung padang.”
Aku menyendok lagi.
“Romi orangnya seperti apa?” tanyaku pelan.
Sartika menjawab cepat.
“Pinter. Tegas. Tau arah hidupnya.”
Ucok menyenggol lenganku.
“Visioner katanya.”
Aku mengangguk kecil.
“Visioner kadang lupa lihat kiri kanan.”
Sartika menatapku.
“Kau kenapa sih? Nadamu kayak orang habis ditinggal klien.”
Aku tersenyum tipis.
“Karena memang ditinggal.”
Ucok berhenti mengunyah.
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Proyek batal.”
“Kenapa?”
Aku menyendok lagi.
“Koordinasi katanya kurang.”
Ucok menatapku lama.
“Kebetulan yang aneh.”
Kami bertiga tahu siapa yang ikut dalam “koordinasi” itu.
Sartika mulai defensif.
“Jangan tarik Romi ke situ.”
Aku menarik napas.
“Aku pernah kerja sama dia.”
“Terus?”
“Dia manis di depan. Lain di belakang.”
Sartika menegakkan punggung.
“Kau ini dari awal sudah negatif.”
“Aku pernah dibohongi.”
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Karena aku tidak mau terlihat cemburu.
Karena aku tidak mau terlihat kalah.
Karena aku sedang lelah.
Tapi yang keluar bukan itu.
“Kau terlalu naif,” kataku.
Kalimat itu keluar lebih cepat dari pikiranku.
Dan bahkan sebelum selesai, aku tahu aku sudah salah.
Sartika berdiri.
“Maksudmu aku bodoh?”
Aku ikut berdiri.
“Aku cuma gak mau kau jatuh.”
“Jadi sekarang kau atur hidupku?”
Dada terasa berat.
“Kalau kau tetap sama dia setelah tahu ini, jangan datang lagi ke aku kalau nanti kau kecewa.”
Sunyi.
Bahkan aku sendiri kaget mendengar nadaku.
Aku ingin melindungi.
Tapi terdengar seperti menghakimi.
Sartika menatapku.
“Baik.”
Dia pergi.
Ucok tidak bercanda.
Dan kalau Ucok tidak bercanda, berarti sesuatu benar-benar rusak.
Beberapa hari kemudian semuanya terbukti.
Romi tidak lagi lembut.
Dia mulai mengatur.
“Kau jangan nongkrong sama mereka terus.”
“Bajumu jangan begini.”
“Kau harus lebih nurut.”
Awalnya terdengar seperti perhatian.
Lama-lama seperti tekanan.
Satu malam, di dalam mobil, ketika Sartika menolak ikut ke tempat yang tidak ia nyaman, Romi menggenggam tangannya terlalu kuat.
“Jangan lebay,” katanya sambil mengunci pintu.
Sartika menarik tangannya.
“Buka.”
Romi tertawa kecil.
“Kau ini kalau serius sama aku harus percaya.”
Nada suaranya berubah.
Bukan tegas.
Keras.
Sartika merasa kecil.
Dan untuk pertama kalinya, ia teringat wajahku malam itu.
Sementara itu, aku duduk di kosan.
Lampu putih terlalu terang.
Inhaler tinggal satu semprot.
Proyek hilang.
Harga diri ikut.
Dada terasa berat.
Aku berdiri.
Inhaler kosong.
Napas makin pendek.
Pandangan kabur.
Pintu diketuk.
“Jhon!”
Ucok.
Aku tidak bisa jawab.
Pintu dibuka paksa.
Ucok melihatku terduduk, napas terputus.
“Gila kau ini…”
Suaranya bukan suara Ucok yang biasa.
Itu suara orang takut kehilangan.
ICU terlalu putih.
Mesin berbunyi.
Beep.
Beep.
Beep.
Ucok duduk di samping ranjang.
Tangannya menggenggam selimutku.
Biasanya dia akan bilang sesuatu kasar.
Sekarang suaranya pelan.
“Kalau kau mati, siapa lagi yang jadi tempat aku ribut?”
Sartika masuk.
Wajahnya hancur.
Dia mendekat.
Air matanya jatuh ke selimut.
“Aku salah…”
Ucok menatapnya.
“Romi?”
Sartika mengangguk.
“Dia kasar. Dia paksa. Dia bilang kalau aku serius harus nurut. Aku nolak. Dia marah. Dia sentuh aku tanpa izin. Dia bilang itu biasa.”
Ucok mengepal tangan.
“Kalau dia di sini—”
Ust Dika menyentuh bahunya.
“Tenang.”
Sartika menangis keras.
“Harusnya aku dengar Jhon…”
Mesin tetap berbunyi.
Beep.
Beep.
Beep.
Tanganku bergerak sedikit.
Kelopak mataku berat.
Aku membuka mata perlahan.
Cahaya menusuk.
Ucok berdiri.
“Woi… Jhon!”
Sartika memegang tanganku.
Aku menatap mereka.
Suaraku pelan.
“Maaf…”
Sartika menangis sejadi-jadinya.
“Jangan kau yang minta maaf… aku yang keras kepala…”
Aku menatapnya.
“Aku salah cara ngomong.”
Aku berhenti.
Tarik napas lewat selang.
“Aku cuma takut kau sesak… seperti aku.”
Sunyi.
Ucok menunduk.
Ust Dika melangkah pelan.
Beliau tidak menggurui.
Beliau duduk.
“Allah berfirman,” katanya pelan,
‘…wal kazhiminal ghaizha wal ‘aafiina ‘anin naas…’
(QS. Ali Imran: 134)
“Orang kuat itu yang menahan marah dan memaafkan.”
Beliau menatap kami.
“Rasulullah bersabda, tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah menambah kemuliaannya.”
Beliau berhenti.
“Jangan tunggu kehilangan untuk belajar memaafkan.”
Mesin tetap berbunyi.
Beep.
Beep.
Beep.
Sartika menggenggam tanganku.
Ucok mengusap wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat mereka bukan sebagai teman tongkrongan.
Tapi sebagai rumah.
Dan malam itu, kami sadar satu hal yang lebih menakutkan dari sesak napas—
Kita bisa kehilangan orang yang paling kita sayang…
bukan karena mereka pergi.
Tapi karena kita terlalu gengsi untuk berkata,
“Maaf, aku cuma takut kehilanganmu.”