Day 4
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Aku si Anak Kecil yang Memandang Ramadan
Medan, 25 Februari 2026 | Yudha Sansena
Ramadhan malam itu warung Semalam Suntuk penuh seperti biasa.
Tapi untuk pertama kalinya, yang dibahas bukan dosa, bukan maaf, bukan Romi, bukan asma.
Yang dibahas: masa kecil.
Ucok tiba-tiba meletakkan gelas tehnya keras.
“Waktu kecil, aku yakin kalau batal puasa itu langsung ada tulisan ‘FAILED’ di jidat.”
Sartika langsung ketawa.
“FAILED? Bahasa Inggris pula?”
Ucok serius.
“Karena Allah Maha Modern.”
Aku hampir tersedak.
“Terus kau pernah cek?”
Ucok menatap jauh.
“Pernah. Aku gak sengaja minum pas wudhu. Airnya masuk dikit. Aku langsung lari ke cermin. Aku lihat jidatku 5 menit.”
Sartika menepuk meja.
“Dan?”
Ucok berbisik.
“Gak ada tulisan. Tapi aku yakin malaikat lagi catat pakai tinta tebal.”
Aku tertawa.
“Waktu kecil, puasa itu bukan soal iman. Tapi soal paranoia.”
Sartika mengangguk.
“Dan mitos. Kalau makan diam-diam, nanti nasi berubah jadi belatung.”
Ucok menunjuknya cepat.
“Eh itu benar! Aku pernah buka panci siang-siang cuma mau cium aromanya. Aku takut nasinya tiba-tiba hidup.”
Aku menggeleng.
“Kenapa kita waktu kecil percaya semua hal?”
Ucok menjawab tanpa ragu.
“Karena ustaz kita waktu TPA mukanya meyakinkan.”
Kami tertawa.
“Yang paling seram itu tarawih,” Sartika mulai.
“Kenapa?” tanyaku.
“Imamnya panjang banget bacaannya. Anak-anak sudah setengah rukuk, setengah koma.”
Ucok langsung berdiri setengah.
“Trauma masa kecilku itu bukan setan. Tapi imam yang baca satu surat full!”
Aku tertawa keras.
“Kita waktu kecil gak tahu 8 atau 20 rakaat. Yang kita tahu cuma satu: KAPAN BUBAR.”
Ucok menepuk meja.
“Dan balap sandal!”
Sartika menunjuk.
“Balap sandal itu bukan main-main. Itu survival. Salah ambil, bisa pulang pakai sandal jepit beda warna.”
Aku mengangguk.
“Masjid waktu kecil itu bukan tempat ibadah. Itu arena gladiator sosial.”
Ucok menambahkan dengan serius palsu.
“Dan saf anak-anak itu paling berbahaya.”
Sartika langsung ketawa.
“Karena?”
Ucok menunduk sedikit.
“Karena selalu ada satu anak yang kentut di rakaat ketiga.”
Aku tertawa sampai batuk.
“Dan semua pura-pura khusyuk.”
Ucok mengangguk mantap.
“Itu ujian iman paling berat. Bukan lapar. Tapi tahan ketawa.”
Lalu topik masuk ke fase paling sakral dalam sejarah anak kecil Indonesia.
THR.
Ucok menegakkan badan.
“THR itu bukan uang. Itu investasi.”
Sartika memutar mata.
“Investasi apa?”
“Strategi safari.”
Aku ikut tertawa.
“Waktu kecil kita bukan silaturahmi. Kita audit.”
Ucok langsung berdiri, meniru suara kecil.
“Assalamualaikum, Om…”
Lalu tangannya refleks membuka telapak seperti ATM berjalan.
Sartika menunjuknya.
“Dan kita hafal rumah mana paling royal.”
Aku mengangguk.
“Om yang kerja di luar negeri.”
Ucok langsung jawab cepat.
“Doa malam takbiran dulu bukan minta ampun. Tapi minta Om pulang.”
Kami tertawa lagi.
Sartika menambahkan.
“Amplop paling bikin sakit hati itu yang tebal tapi isinya dua ribuan dilipat banyak.”
Ucok memukul meja.
“ITU PENIPUAN EMOSIONAL!”
Aku tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
“Dan kita pura-pura bilang terima kasih dengan tulus.”
Ucok mengangguk.
“Karena berharap tahun depan naik kelas.”
Ust Dika yang dari tadi diam akhirnya tersenyum.
“Waktu kecil, kalian puasa karena apa?”
Ucok jawab cepat.
“Karena takut masuk neraka.”
Sartika jawab.
“Karena semua teman puasa.”
Aku menjawab pelan.
“Karena bangga bisa bilang ‘aku puasa full’.”
Ucok menunjukku.
“Padahal jam tiga sore sudah minum diam-diam.”
Aku mengangkat bahu.
“Itu latihan strategi.”
Sartika tertawa.
“Kita waktu kecil itu polos banget.”
Ucok mengangguk.
“Polos tapi licik.”
Aku melihat mereka.
Dan untuk sepersekian detik, suara warung terasa pelan.
“Waktu kecil,” kataku pelan, “kita cuma takut batal.”
Ucok menyela cepat.
“Sekarang takut saldo.”
Sartika menambahkan.
“Takut gagal.”
Aku tersenyum kecil.
“Tapi anehnya… waktu kecil kita lebih berani minta maaf.”
Sunyi setengah detik.
Ucok langsung bangkit lagi.
“Eh jangan refleksi dulu. Kita belum bahas lomba azan!”
Kami pecah lagi.
Ramadhan waktu kecil itu sederhana.
Lapar terasa seperti petualangan.
Tarawih terasa seperti lomba tahan bosan.
THR terasa seperti bonus hidup.
Dan dosa terasa seperti tulisan di jidat.
Sekarang?
Sekarang kita tahu banyak hal.
Tapi kadang… kita rindu jadi anak kecil lagi.
Bukan karena ingin THR.
Tapi karena waktu itu…
puasa kita mungkin belum sempurna,
tapi hati kita belum rumit.
Ucok berdiri dan mengangkat gelasnya.
“Untuk anak kecil dalam diri kita.”
Sartika ikut mengangkat gelas.
“Yang masih takut tulisan FAILED di jidat.”
Aku tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang berat…
aku tertawa tanpa sesak.
Karena mungkin…
Ramadhan bukan cuma tentang jadi lebih dewasa.
Kadang tentang mengingat
betapa jujurnya kita waktu masih kecil.