Day 5
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Kerja, Lelah, Ibadah
(Ramadhan di Medan)
Medan, 26 Februari 2026 | Yudha Sansena
Ramadhan di Medan itu unik.
Subuh belum tiba, tapi azan sudah terdengar dari tiga arah berbeda.
Satu masjid mulai. Dua detik kemudian masjid sebelah ikut. Lima detik kemudian yang lebih jauh menyusul.
Efeknya? Kita bangun bukan karena iman. Tapi karena surround sound.
Alarm sahurku bunyi jam 03.45. Tapi sebenarnya aku sudah bangun jam 03.41. Karena azan percobaan sudah dimulai.
Ucok kirim pesan.
“Medan ini kalau sahur gak bangun, berarti tuli.”
Aku jawab.
“Atau pura-pura mati.”
Sartika kirim voice note dengan suara masih berat.
“Aku sahur sambil kipas angin maksimal. Panasnya Medan ini bukan cobaan. Ini ujian langsung.”
Ramadhan di Medan punya satu musuh utama.
Panas.
Jam 10 pagi saja, matahari sudah seperti punya dendam pribadi.
Aspal terlihat seperti siap menggoreng telur dadar. Helm jadi oven berjalan. Baju kantor berubah jadi kain sauna.
Ucok pernah bilang di warkop sore hari,
“Puasa di Medan itu bukan menahan lapar.”
Kami menunggu.
“Menahan keringat.”
Sartika langsung menyela,
“Dan menahan niat pindah ke Berastagi.”
Aku tertawa.
Siang hari di kantor, AC sering tidak konsisten. Kadang terlalu dingin. Kadang cuma pura-pura hidup.
Jam 11.30. Perut mulai berbunyi. Tapi bukan lapar yang berat.
Yang berat itu mikir.
Deadline. Klien. Tagihan. Obat. Target.
Jam 14.00.
Kantor terasa seperti ruang tunggu kehidupan.
Semua orang duduk. Menunggu jam 15. Lalu 16. Lalu 17.
Ucok pernah berdiri tiba-tiba.
“Kenapa ya jam 16.30 itu emosinya naik drastis?”
Sartika jawab cepat.
“Itu bukan emosi. Itu panas Medan yang masuk ke hati.”
Aku tertawa kecil.
Jam 16.30 di Medan bukan cuma lelah.
Macet mulai padat. Klakson bersahutan. Motor selip di antara mobil. Angkot berhenti seenaknya seperti sedang meditasi.
Dan kita… di dalam mobil atau motor… berdoa agar sabar tidak habis sebelum magrib.
Puasa dewasa bukan lagi soal menahan makan.
Tapi menahan reaksi.
Menahan marah. Menahan balas. Menahan suara klakson tambahan.
Ucok pernah hampir turun dari motor karena ada yang serobot.
Aku tarik jaketnya.
“Kau lagi puasa.”
Ucok terdiam.
“Benar juga. Kalau gak puasa mungkin sudah ku ceramahi dia.”
“Ceramahi?”
“Iya. Pakai volume Medan.”
Kami tertawa.
Jam 17.55.
Semua orang tiba-tiba jadi damai.
Penjual takjil di pinggir jalan. Kolak pisang. Es timun serut. Bubur kampiun. Kurma di kotak plastik.
Suara adzan magrib terdengar. Dan Medan seperti berhenti satu detik.
Lalu… semua makan seperti sedang balas dendam.
Ucok selalu bilang saat buka,
“Kenapa ya tiap buka puasa kita makan seperti ini hari terakhir?”
Sartika menjawab,
“Karena siang tadi kita janji macam-macam ke diri sendiri.”
Aku tersenyum.
Ramadhan di Medan itu keras. Panas. Macet. Bising.
Tapi anehnya… hangat.
Malam hari kami duduk di Semalam Suntuk.
Angin Medan lembab. Lampu jalan kuning. Warung sedikit ramai.
Ucok bersandar.
“Jujur ya… aku capek.”
Sartika menoleh.
“Capek kerja atau capek hidup?”
Ucok mikir lama.
“Capek jadi dewasa.”
Aku diam.
Itu lebih jujur dari biasanya.
Ramadhan dewasa bukan cuma menahan lapar.
Tapi menahan ego.
Menahan kecewa.
Menahan rasa ingin menyerah ketika badan panas, kepala berat, dan hidup terasa padat seperti jalan Gatot Subroto jam pulang kerja.
Ust Dika menyeruput kopi.
Pelan.
“Medan panas ya.”
Ucok langsung jawab,
“Panas, Bang. Ini bukan kota. Ini oven kolektif.”
Ust Dika tersenyum.
“Justru itu.”
Kami menatapnya.
“Panas menguji sabar. Lelah menguji niat.”
Beliau melanjutkan pelan,
“Fa inna ma’al usri yusra.”
Ucok mengangkat tangan.
“Bang, itu artinya tetap sama ya?”
“Bersama kesulitan ada kemudahan.”
Ucok mengangguk.
“Kalau kesulitannya panas Medan?”
“Kemudahannya pahala sabar.”
Kami tertawa kecil.
Tapi kali ini tidak terlalu keras.
Karena kami tahu…
ini bukan cuma soal panas.
Ini soal hidup.
Ramadhan waktu kecil di Medan adalah balap sandal di masjid.
Ramadhan dewasa di Medan adalah balap sabar di jalan.
Waktu kecil kita takut batal.
Sekarang kita takut meledak.
Waktu kecil kita bangga bisa puasa full.
Sekarang kita bangga bisa tidak marah meski macet 40 menit.
Dan mungkin…
Ramadhan bukan menghilangkan lelah.
Tapi memberi alasan untuk tetap baik di tengah lelah.
Ucok berdiri.
“Jadi intinya, capekku ada nilainya?”
Ust Dika mengangguk.
“Kalau niatnya benar.”
Ucok duduk lagi.
“Alhamdulillah. Berarti panas Medan ini investasi.”
Sartika tertawa.
Aku memandang mereka.
Kerja itu dunia. Lelah itu manusia. Ibadah itu penyeimbang.
Dan Ramadhan di Medan mengajarkan satu hal sederhana:
Kalau kau bisa sabar di kota sepanas ini… kau bisa sabar di mana saja.
Malam itu kami pulang.
Angin masih lembab. Langit Medan tidak terlalu berbintang. Tapi hati sedikit lebih ringan.
Karena mungkin…
yang membuat kita bertahan bukan karena kita kuat.
Tapi karena setiap adzan di kota ini, menghentikan dunia sebentar dan mengingatkan kita,
“Tenang. Masih ada waktu. Masih ada Tuhan.”