Day 7 | Final
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Tautan Narablog Edisi Ramadhan
Ramadhan dan Tulisan
Medan, 28 Februari 2026 | Yudha Sansena
Ramadhan di Medan itu panas.
Tapi anehnya, di bulan itu aku justru paling banyak menulis.
Padahal kalau dipikir-pikir, logikanya gak masuk.
Bangun jam 3.
Kerja sampai sore.
Macet.
Tarawih.
Ngantuk.
Harusnya yang ditulis cuma satu kalimat:
“Aku capek.”
Tapi setiap malam, setelah buka, setelah tarawih, setelah angin Medan yang lembab itu masuk lewat jendela kosanku…
aku malah buka laptop.
Ucok pernah tanya di warung Semalam Suntuk,
“Kau ini nulis buat apa sih?”
Aku jawab santai,
“Biar gak meledak.”
Ucok menatapku.
“Meledak apa?”
“Kepala.”
Sartika menyela cepat,
“Jhon itu kalau gak nulis, dia overthinking sampai level provinsi.”
Aku gak bantah.
Ramadhan itu bulan menahan.
Menahan lapar.
Menahan haus.
Menahan emosi.
Tapi pikiranku?
Gak ada yang menahan.
Dia tetap lari ke mana-mana.
Ke masa lalu.
Ke kegagalan.
Ke mimpi.
Ke ketakutan.
Dan tulisan jadi satu-satunya cara biar pikiranku duduk.
Ramadhan membuat semua orang sibuk memperbaiki diri.
Ada yang tambah ibadah.
Ada yang tambah sedekah.
Ada yang tambah sabar.
Aku?
Tambah tulisan.
Ucok pernah bilang,
“Orang lain baca Qur’an satu juz. Kau nulis satu bab.”
Aku jawab,
“Ini versi tafsir hidupku.”
Sartika ketawa.
“Gak usah tinggi-tinggi. Kau cuma gak bisa tidur.”
Itu juga benar.
Ramadhan di Medan punya satu hal unik.
Malamnya lebih tenang.
Setelah tarawih, jalanan gak seramai biasanya.
Lampu-lampu jalan kuning.
Angin lembab.
Suara motor sesekali lewat.
Dan di jam-jam itu…
aku merasa paling jujur.
Tulisan itu aneh.
Dia seperti puasa.
Kalau kau paksa, dia gak keluar.
Kalau kau tahan, dia makin berisik.
Ucok pernah nyeletuk,
“Jadi tulisanmu itu ibadah?”
Aku mikir.
“Gak tahu.”
Ucok langsung brutal.
“Kalau ada pahala, aku mau royalti.”
Sartika menggeleng.
“Kalian ini kalau serius lima menit langsung rusak.”
Ust Dika yang dari tadi diam akhirnya bicara.
“Kenapa kamu menulis di bulan Ramadan?”
Aku terdiam.
Kenapa ya?
Karena sepi?
Karena tenang?
Karena banyak waktu?
Aku jawab pelan.
“Karena Ramadhan bikin aku lebih jujur.”
Ucok langsung menyela,
“Jujur soal apa?”
“Jujur kalau aku capek. Jujur kalau aku takut. Jujur kalau aku gak sekuat kelihatannya.”
Sunyi.
Warung terasa lebih hening.
Ust Dika tersenyum tipis.
“Ramadan itu bukan cuma menahan. Tapi menyaring.”
“Menyaring apa, Bang?” tanya Sartika.
“Isi hati.”
Beliau lanjut pelan,
“Orang yang diam, akan tahu apa yang paling sering muncul di pikirannya.”
Aku menunduk.
Yang muncul di pikiranku bukan cuma lapar.
Tapi pertanyaan.
Aku ini mau jadi apa?
Tulisan ini mau ke mana?
Kenapa aku nulis terus?
Ucok tiba-tiba berdiri.
“Jhon.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari gak ada yang baca tulisanmu, kau masih nulis?”
Pertanyaan itu lebih panas dari matahari Medan.
Aku jawab pelan.
“Iya.”
Ucok menyeringai.
“Kenapa?”
“Karena aku nulis bukan supaya orang tahu aku hebat. Tapi supaya aku tahu aku hidup.”
Sunyi lagi.
Sartika melihatku lama.
“Kau sadar gak,” katanya pelan, “tulisanmu itu bukan buat pamer. Tapi buat pulang.”
“Pulang ke mana?”
“Ke diri sendiri.”
Aku tertawa kecil.
Polos, tapi dalam.
Ramadhan mengajarkan banyak hal.
Tentang sabar.
Tentang menahan.
Tentang berbagi.
Tapi untukku…
Ramadhan mengajarkan duduk.
Duduk dengan diri sendiri.
Dan tulisan adalah cara duduk itu tidak terasa sepi.
Ucok menyandarkan kepala ke kursi.
“Berarti tulisanmu itu kayak sahur.”
“Kenapa sahur?”
“Karena kecil, tapi penting.”
Aku tertawa.
Sartika menambahkan,
“Dan kalau gak ada, kau lemas.”
Kami tertawa.
Ust Dika menatap kami satu per satu.
“Menulis itu juga amanah,” katanya pelan.
“Apa yang keluar dari tangan dan lisan, akan dimintai pertanggungjawaban.”
Ucok langsung angkat tangan.
“Berarti kalau Jhon nulis jelek, dosa?”
Sartika menepuk meja.
“Itu bukan dosa. Itu revisi.”
Kami tertawa lagi.
Tapi kali ini aku tahu satu hal.
Tulisan ini bukan cuma cerita.
Ini pengakuan kecil.
Bahwa di balik lelah Ramadhan, di balik panas Medan, di balik macet dan kerja dan deadline…
aku tetap punya ruang kecil untuk jujur.
Dan mungkin…
itulah kenapa aku menulis.
Bukan untuk terkenal.
Bukan untuk dipuji.
Bukan untuk viral.
Tapi supaya suatu hari nanti…
kalau aku lupa siapa diriku,
aku bisa membaca kembali dan berkata,
“Oh… ini aku.”
Ramadhan akan selesai.
Tulisan mungkin berhenti beberapa hari.
Tapi apa yang disaring bulan ini…
akan tinggal.
Ucok berdiri sambil mengangkat gelas.
“Untuk tulisan yang gak meledak.”
Sartika ikut angkat gelas.
“Untuk kepala yang gak penuh.”
Ust Dika tersenyum.
“Untuk hati yang lebih ringan.”
Aku tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya aku sadar…
Ramadhan bukan cuma bulan menahan lapar.
Tapi bulan menemukan suara sendiri.
Dan tulisanku…
adalah suara kecil itu.